another place to share

Sampah Masyarakat yang Terhormat

Sampai detik ini yang bisa saya lakukan hanyalah mengkritik dan menilai negeri ini dan semua hal tentangnya. Belum bisa berbuat banyak dan berarti bagi orag lain. Dan sekali lagi ketidakpuasan atas kinerja pemerintah pada khusunya dan seluruh warga ini pada umumnya.

Saya sangat apresiatif terhadap usaha pemerintah dalam menangani permasalahan yang silih berganti di negeri ini. Setidaknya sudah ada niat dan tindak nyata. Tapi rasanya tetap ada yang hambar dan kurang pas. Pada Kenyataannya, penindakan hukum itu terkesan ogah-ogahan dan malah memperboros anggaran saja.  Sebut saja ‘korupsi’ yang sudah menjadi cendawan dalam birokrasi kenegaraan dan kemasyarakatan. Semua yang berhubungan dengan yang namanya ‘pejabat’ sudahlah tentu berbeda penanganannya.

Bayangkan saja begini, orang yang menyuap dan disuap pastilah orang yang sama-sama berduit atau setidaknya mempunyai otoritas terhadap hal tertentu (yang pasti penting dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak). Rekan dan relasi mereka pun tentunya juga golongan yang sudah tidak mungkin diragukan lagi kekuasaannya (i.e: pejabat, penegak hukum, aparatur negara, dan sebagainya) dalam birokrasi negeri ini. Ketika satu atau beberapa rekan merka erkena kasus korupsi, sudah pasti rasa tak enak yang selalu mendarah daging dalam tubuh bangsa Indonesia itu akan muncul dengan cepatnya. Atau lebih tepatnya disebut tepo seliro dalam korupsi. Lucu ya, tepo seliro (tenggang rasa. red) dalam keburukan mungkin bersemi setiap musim di negeri ini. Pada akhirnya yang ada tetap saja korupsi keadilan. Mereka harusnya (laknat saya) dihukum seumur hidup, tapi yang ada hanya numpng tidur saja di bui. Sisanya tetap bisa beraktifitas seperti biasanya.

Lants apa pantas mereka disebut sebagai pejabat yang terhormat? Sedangkan orang kecil yang demi makan sesuap nasi saja mempertaruhkan harga diri untuk mengambil satu buah mangga milik tetangga hingga berakhir di bui selama 5 tahun kurungan. Perbuatan mencuri tidaklah terpuji, tapi dalam konteks ini, betapa pemimpin negeri masih tebang pilih dalam menegakkan keadilan hukum di negara ini. Memilih antara yang berduit dan berdasi saja.

Ya, Bapak Ibu sampah masyarakat yang terhormat..

Advertisements

2 responses

  1. Jumee

    itu realita bu Lurah… setelah realita tentu ada reaksi yang mengikut di belakangnya. setelah melihat, org menilai, setelah menilai kita memberikan reaksi.

    reaksi atau pilihan tindakan kita terhadap sebuah realita berbeda2. Rasulullah, mengidentifikasi tiga tindakan itu. pretama, ubah dengan tanganmu. berarti kita sebenarnya dituntut melakukan sesuatu atas realita yg tak layak bagi kehidupan. kita dituntut melakukan tindakan nyata.

    kedua, ubah dengan mulutmu. kita harus mengingatkan bahwa realita seperti yg kita lihat saat ini tidak benar. bisa langsung menegur, atau juga menggugah kesadaran orang melalui nasihat atau tulisan…

    ketiga, hentikan dengan hati. kita teguhkan pendirian kita bahawa realita semacam itu sangat buruk dan harus dihindari. do’ain aja siapa tahu Allah melaknat bajingan2 itu…

    11/01/2011 at 4:56 pm

    • iya.., mudah2an mereka juga disadarkan ya pak.. semoga. eh, njenengan kagungan blog boten? mbok di link, trs kuo ijin ngelink blog njenengan juga, hehehehe….

      11/01/2011 at 8:03 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s