Riuhnya Konflik Negeriku

Baru kemarin harga cabe sudah berhasil membuat para ibu untuk puasa makan sambal, lalu Tarif Dasar Listrik (TDL) kembali dengan kenaikannya, dan hangat diributkan bawang merah juga melonjak. Bisa- bisa serumah lebih memilih tidak langganan listrik plus tidak makan yang berbau cabe. Gelap dan hambar. Tak ada enaknya. Dan inilah tugas rumah tangga mendesak yang wajib diatas oleh pemerintah. Tapi penyelesaian yang dilakukan masih jauh dari harapan.
Sekali lagi pemerintah bertindak menurut apa yang dianggapnya benar tanpa memikirkan dampaknya. Mungkin tanpa disadari pemerintah berbuat hal yang menambah kuatnya cekikan di leher rakyat. Sudah berpuluh-puluh tahun himpitan hidup atas nama kemakmuran rakyat dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Entah tak tahu atau sengaja tutup kuping atas teriakan rakyat. Dan dengan begitu rakyat dididik untuk berpikir apatis dan skeptis. Kekecewaan akan kemakmuran hidup berhasil membuat pesimis warga.
Semakin hari semakin besar tangungan hutang yang dibebankan kepada rakyat. Karena semua bantuan yang katanya untuk usaha pemberdayaan masyarakat murni hasil pinjaman ke IMF dan negara-negara sahabat yang mungkin sedang berbaik hati kepada negeri ini. Yang namanya pinjaman tentu saja ada jaminan. Lalu, apa jaminan atas hutang-hutang yang luar biasa banyaknya tersebut? Apa lagi yang dimiliki negeri ini selain wilayah domisili dan harga diri. Ya, semoga saja bukan itu yang jadi barang jaminan. Ambil saja DIPA (Daftar Isian Penyerapan Anggaran) sebagai contohnya. Apalagi BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang juga menambah rapelan bagi sekolah. Belajar dari pengalaman, tidak sepenuhnya dana itu benar-benar sampai ke tangan rakyat yang membutuhkan. Dan mungkin malah memberi peluang emas bagi koruptor untuk memperkaya diri sendiri.
Sedangkan dampak yang sebetulnya atas tindakan pemerintah ya kepada rakyat. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah para pegawai pelaksana keputusan pemerintah. Secara langsung merekalah yang akan menjadi sasaran amukan rakyat. Dan jika terjadi yang demikian, pemerintah kembali memutar akal untuk mencari cara meredam kemelut tanpa menindak lanjuti sumber kekisruhan secara tuntas. Ironis sekali negeriku ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s