Damar Tak Ingin Sekolah

Namanya Damar Agung Pekerti. Murid kelas tiga SDN Bumi Raharjo. Anak laki-laki satu-satunya petani pemilik rumah di tengah sawah. Mungkin maksudnya sekalian jagain sawah. Dahulunya mereka hidup bahagia dengan sepuluh anggota keluarga. Bapak, ibu, mbah uti, enam anak perempuan dan seorang anak laki-laki, Damarlah orangnya. Namun sekarang keadaan rumah itu selalu murung dan tak terdengar lagi tawa renyahnya bapak.

Berawal sekitar tiga bulan lalu…
Pagi ini Damar tak mau sekolah. Malah menangis meronta dan terus merengek minta pulang.
“Sampun Bu, Damar diajak pulang mawon. Hari ini dia tidak sekolah ndak apa-apa.” Kepala Sekolah nampak tak tega melihat Damar yang terus uring-uringan.

Bahagianya Damar. Begitu tiba di rumah, raut gembira terpancar bebas dari dirinya. Dia lebih merasa nyaman berada di rumah bersama mbah uti dan keenam mbakyunya. Bermain sendiri dan tertawa lepas tanpa ada beban kegelisahan seperti waktu di sekolah. Memang bapak hanya menyekolahkan keenam putrinya sampai tingkat dasar saja. Kata bapak anak perempuan itu tugasya di dapur. Yang perlu sekolah tinggi itu hanya laki-laki saja.

Keesokan hari dan seterusnya Damar bertingkah sama setiap mau diantar ke sekolah. Malah belakangan ini dia menolak dimandikan pagi. Karna lagi-lagi ia akan diantar ke sekolah. “Aku ndak mau ke sekolah!!!” teriakan Damar memilukan hati.
Sudah masuk bulan ke tiga Damar tidak mengikuti pelajaran. Pihak sekolah telah mengupayakan yang terbaik untuk memecahkan masalah Damar. Tapi hasilnya nihil karena Damar tetap tidak mau sekolah. Hingga hari ini bapak memutuskan Damar tidak usah sekolah lagi.

Bapak sangat terpukul. Damar anak lelaki satu-satunya yang lebih dari empat puluh lima tahun dinantinya. Tapi kenyataannya harapan menjadikan putranya sebagai tunas harapan bangsa pupus di awal jalan. Yang lebih memilukan lagi alasan Damar tak mau sekolah karena ingin bebas seperti saudaranya yang lain. Dan selalu di rumah tanpa tuntutan belajar dan lainnya.[]

*kesimpulan: Tak bijak rasanya masih menyimpan diskriminasi dalam hal pendidikan bagi putra-putri penerus bangsa. Laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu. Belum tentu laki-laki itu selalu kuat dan optimis sedang perempuan hanya manut dan nurut saja. Semua tergantung masing-masing pribadi. Intinya, kita adalah setara dan stop pemarginalan antara laki-laki dan perempuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s