Menyoal Demokratisasi

demokrasi negara ini (sumber:umm.web.id)

 

Peran saya saat ini masih sebagai penonton yang berusaha aktif (seringnya diem) menilai laju perkembangan demokrasi negeri ini. Dan penilaian saya terkadang kurang berimbang karena informasi yang ada tak sesuai dengan kenyataan (sebagian begitu). Fakta yang diinformasikan oleh media kepada masyarakat terkadang aspal. Asli karena disampaikan langsung oleh pihak yang bersangkutan-langsung (bisa dirinya sendiri, pengacara, jaksa, dan lain sebagainya). Namun juga palsu karena informasi itu tidak yang sebenarnya.

Kasus* seperti di atas sudah menjadi hal biasa di dunia politik kalangan atas. Dan itulah demokratisasi di negara ini. Maklum, masih dalam tahap belajar demokrasi di usianya yang memasuki 66 tahun. Cukup tak kenal lelah untuk belajar. Great untuk Indonesiaku dengan semangat tak pernah berhenti belajarnya. Ya, negeri ini seolah mengimplementasikan quote ‘belajar itu tak mengenal usia’. Pantas diacungi jempol. Namun, ada yang terlupakan dari proses ini. Dan menurut saya ada yang kurang singkron antara evaluasi dan implementasi.

Kemajuan demokrasi sudah jauh membaik. Semua pihak berusaha mengambil peran dalam setiap kejadian. Setiap dari masalah yang muncul ke permukaan, direspon dengan cepat dan sigap. Peran media sangat membantu dalam mensosialisasikan wacana yang sedang berkembang di negara ini. Dan masyarakat bisa menilai sekaligus mengevaluasi permasalahan dan juga sikap pemerintah menangani masalah tersebut. Baik dan buruk penilaian atas kinerja pemerintah, masyarakatlah yang berhak. Karena merekalah juri yang sebenar-benarnya juri. Lalu, apakah pemerintah mempertimbangkan apa yang disampaikan oleh rakyatnya? Maukah mereka menerima jika dianggap tidak berjalan sesuai jalur?

Sayangnya jawabannya bertendensi tidak. Beberapa waktu lalu, ketika pemerintah menerima kritikan bahwa “pemerintah berbohong atas nama rakyat dalam menyelesaikan setiap kasus hukum”, pemerintah malah membantah habis-habisan. Saya rasa negara demokrasi selalu memberi dan menerima masukan kritik dan saran dari,untuk dan oleh siapa pun (rakyat), tanpa kecuali. Tapi kenyatannya demokrasi di negara ini tidak demikian. Melihat yang sudah-sudah, tak ada evaluasi yang berarti. Semua sesuai hasrat dan kehendak hati pemerintah. Implementasi hukum berjalan sistematis menurut narasi dan skenario mereka. Sampai kapan demokrasi seperti ini akan terus berlanjut? Dan inilah salah satu soal yang menunggu untuk segera dijawab. []

*kasus: saya anggap kasus karena ada ketidak sinergian/konflik di dalamnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s