another place to share

Getting close to my books

Welcome February..

Hari pertama di bulan ini. Waktunya membenahi  yang belum tertata di satu bulan kemarin. Ada yang bilang, bulan Februari itu bulan penuh cinta. Dan buat saya Februari adalah waktunya mencintai buku-buku tercinta. Bagaimana dengan anda?

Banyak hal yang bisa dilakukan dengan kecintaan masing masing. Dan ribuan cara mengungkapkan kecintaan itu. Dan lagi-lagi buat saya, mengungkapkan kecintaan saya pada buku itu sulit namun menyenangkan rasanya. Alasannya? Menurut saya seperti ini:

Pertama, membiasakan membersihkan debu-debu pada buku

Sebenarnya untuk yang satu ini tak ada maklum lagi. Jujur saja saya benci dengan serawutnya Ibukota. Salah satu imbasnya adalah buku-buku yang mudah kena debu. Dan ini salah satu faktor berat penyebab cepat kotor dan lusuhnya buku-buku saya. Setidaknya harus membersihkannya satu minggu sekali. Itulah waktu yang saya miliki untuk tugas ini.

Kedua, menyampul buku.

Buku juga perlu baju. Karena kertas di buku mudah rusak dan lusuh. Ditambah dengan jutaan debu beterbangan di sekelilingnya. Apalagi jika buku-buku berada di banyak tangan alias sering dipinjam. Terkadang teman yang meminjam sesuka hati memperlakukan buku yang menurutnya bukan miliknya. Jadi, siapa lagi yang akan menyayangi buku itu kalau bukan empunya.  Dan menyampulinya cukup membantu menghindarkan buku dari resiko rusak akut.

Ketiga, menata kembali buku-buku yang berantakan.

Sebulan berlalu, kondisi buku pasti tak tertata rapi.  Mengklasifikasi jenis buku menurut genre dan bidangnya akan mempermudah dalam mencarinya. Dan passion to read pun kembali hidup. Ingat! Keadaan buku yang acakadut akan membuat semrawut. Gampang saja kok, urutkan saja buku-buku yang sesuai. Novel dengan novel. Hukum bersama keluarga hukum dan sebangsanya, kitab harus senasib dengan kitab-kitab lainnya. Dan begitu seterusnya sesuai dengan selera pastinya.

Keempat, me-re-formasi peletakan buku-buku saya included the roof position.

Terkadang melihat posisi buku yang begitu-begitu saja membuat bosan. Dan mereformasinya akan membuat situasi rak terlihat hidup dan beda. Namun kendalanya adalah jika koleksi buku itu tidak sedikit. Menatanya sendiri pasti akan menguras tenaga dan mungkin tak cukup satu hari saja. Lalu, juga bisa menyulitkan ketika hendak mencari buku yang diinginkan jika mengubah tata letaknya. Karena default and fixed positin sudah tertata indah di memori kepala. Jadi, untuk kondisi seperti ini lebih baik menata area tertentu saja. Atau bagian yang terlihat dan sering dibaca bukunya. Merubah posisi dari komposisi ruangan juga tak ada salahnya. Ruangan akan terlihat lebih fresh.

Kelima, mencatat buku-buku.

Terlalu posesif? Apa aja boleh. Bagi saya buku itu sangat berharga. Karna banyak hal berharga pula yang harus dikorbankan demi memilikinya. Mencatat jumlah dan jenisnya tak ada salahnya. Termasuk siapa saja yang meminjamnya. Karena kuantitas buku di rak saya menurun sangat drastis sekali. Dan hampir 10 persennya tak ketahuan keberadaannya. Oh, buku yang malang. Dan teman yang tidak bertanggung jawab! 😦

Kurang lebih seperti itu cara saya menjaga hubungan saya dengan buku-buku saya. Butuh waktu bukan. Tapi bila dilakoni sungguh sangat menyenangkan. So, how should  it feel?? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s