another place to share

Waktunya Kita Mandiri

semut yang bahagia (source:rhemaindonesia.co.cc)

Tak malukah kita kepada semut???

Sudah waktunya setiap dari penduduk di negeri ini hidup mandiri. Menghidupi diri dan keluarga tanpa dibayang-bayangi harapan bantuan dari pemerintah. Mungkin ini salah satu sikap skeptis saya terhadap pemerintah dalam menanggulangi permasalahan rumah tangga negeri ini.

Dalam sebuah keluarga, hal yang diperlukan untuk memenuhi kategori keluarga bahagia setidaknya tercukupi tiga kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan, dan papan. Jika salah satu dari ketiganya tidak tercukupi atau bahkan semuanya , maka yang timbul seperti yang terjadi di Negara Indonesia ini. Itupun semua anggota keluarga harus runtut dan brukut tanpa terkecuali. Mari kita lihat keadaan negeri ini.

Semakin hari, kenaikan bahan pokok semakin tajam dan merembet ke keperluan yang lain. Berwal dari cabe yang sempat mencapai harga prestisius hingga 100 ribu per kilonya. Disusul dengan bawang merah yang melonjak tajam hingga. Dan satu minggu belakangan ini, harga beras juga perlahan-lahan menunjukkan taring kenaikannya. Inilah realita yang terjadi di masyarakat. Kebutuhan pengan sedang menjadi cambuk bagi kelangsungan hidup masyarakat Indonesia. Lalu, mari kita lihat tingkah pemerintah dan para pejabat sebagai ayah ibu pengatur kondisi kestabilan Negara.

Belum lama ini, rumor muncul dari DPRD DKI Jakarta. Usulan anggota DPRD tentang anggaran dana senilai 2,5 milyiar rupiah untuk pembelian mobil baru diloloskan oleh pemerintah. Rencananya mobil tersebut akan digunakan untuk akomodasi bagi tamu VVIP. Sungguh fantastis sekali tamu DPRD ini.  Dan betapa semena-mena sekali mengusulkan apalagi meloloskan rencana tersebut.

Sementara di sudut lain, seorang nenek  tua yang renta di Nganjuk hanya tinggal sebatang kara di gubuk reyot. Untuk makan saja, masih mengharapkan belas kasihan dari tetangga. Tak ada lagi tenaga untuk bekerja. Tak ada saudara dan keluarga. Dan ternyata ayah ibu Negara ini melupakannya. Entahlah,saya juga bingung bukan main. Betapa ayah ibu kita sangat kejam. Memperlakukan anggota keluarga secara tak adil. Padahal sebenanya mereka bukanlah anak tiri, anak pungut, atau anak haram. Mereka adalah sebenar-benarnya rakyat Indonesia yang lahir dan hidup di Indonesia. Jika dibeberkan, banyak anggota keluarga yang terlupakan. Atau mungkin malah sengaja dilupakan. Sudah diupayakan untuk mengingatkan langsung, malahan pernah dengan cara agak keras pula. Namun respon yang muncul hanyalah ‘akan memperbaikinya’ saja. Tak ada tindakan yang berarti. Istilah jawa bilang “nggah nggih nanging ora kepanggih” (iya iya saja, tapi tak ada implementasinya).

Maka dari itu, saya mulai berpikir untuk tak lagi mengandalkan pamong negeri ini untuk membantu menangani masalah rumah tangga. Banyak cara sederhana yang bisa dilakukan. Mungkin yang berikut ini bisa mebantu mengurangi beratnya himpitan ekonomi:

Pertama, menanam sayuran dan buah di rumah. Tanaman buah dan sayuran dalam pot tak kalah indahnya dengan bunga yang lain untuk menghias rumah sekaligus bisa diambil manfatnya. Cabe, bawang merah, seledri, bayam, terong, dan lainnya bisa ditanam di pot asal teratur dirawat. Satu atau dua pohon cabe sudah cukup untuk memedaskan lidah saat makan. Hal ini sangat membantu mengantisipasi pada saat seperti ini. Saat harga cabe melonjak tajam, tak perlu lagi mengeluarkan uang lebih untuk membeli cabe. Setidaknya pengeluaran untuk yang satu ini bisa untuk kebutuhan yang lain.

Kedua, membiasakan untuk tidak mengkonsumsi nasi setiap hari. Sudah menjadi kebiasaan penduduk negeri ini bahwa nasi adalah makanan pokok untuk sehari-hari. Padahal Negara kita ini kaya akan hasil bumi yang mengandung karbohidrat lainnya. Seperti jagung, singkong, ubi, dan sagu. Fungsi dan manfaat untuk tubuh pun juga sama, yaitu menambah energi untuk beraktifitas. Dengan begitu kita tidak akan ketergantungan kepada beras saja. Dan satu catatan bahwa singkong, jagung, dan makanan yang mengandung karbohidrat selain beras bukanlah makanan kampung yang murahan dan tidak bergizi. Dari segi harga memang jauh di bawah beras, tapi manfaat tidak berbeda dengan beras.

Ketiga, melatih dan mendidik putra putri kita sejak dini. Dalam zaman semaju seperti ini, tak elok rasanya jika anak-anak kita tertinggal. Disamping sekolah mendidik anak-anak kita, tapi orang tua lah yang seharusnya berperan penting dalam perkembangan anak. Karna keadaan negeri ini sedang susah untuk diprediksi. Setidaknya bisa beraga-jaga jika sewaktu-waktu biaya pendidikan melonjak drastis seperti cabe.

Keempat, berusaha sehemat mungkin dalam memaksimalkan berbagai hal dalam kehidupan. Memakai listrik, air, bahan bakar, tenaga, sikap, suara, dan semua hal hendaknya diatur secara cermat. Pastinya kita adalah manusia dewasa yang sudah bisa berbuat sebijak mungkin dalam hidup.

Jadi, jangan sampai kita menjadi anak yang ditelantarkan tapi hanya pasrah dengan keadaan saja. Mari tetap optimis menjalani hidup walau bagaimana pun keadaannya. Semoga keadaan negeri ini semakin membaik seiring dengan perubahan sikap kita dan para  pemimpin bangsa yang juga semakin bijak dan membaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s