another place to share

Aku, Sari, dan Nyamuk

Kututup kuping rapat-rapat. Berusaha tidur senyenyak-nyenyaknya tanpa pernah terbangun oleh nyamuk yang kian mengganas itu. Memang beberapa hari ini nyamuk seperti beranak pinak. Dan selalu membuatku tak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Mungkin ‘karna tiga hari lalu hujan mengguyur Ciputat setelah hampir seminggun tak turun hujan. Memang katanya waktu-waktu peralihan seperti ini nyamuk menunjukkan taringnya. Hampir setiap hari aku merasa ngantuk berat di pagi hari. Alasannya jelas. Lagi-lagi karna nyamuk. Entahlah, tapi sejak saat itu aku begitu sensitif dengan nyamuk.

–***–

Namanya Sari. Kami berteman akrab lebih dari saudara. Tak ada ikatan keluarga apalagi saudara kandung. Dia hanya teman bermain. Teman tertawa dan bergembira bersama. Menghabiskan waktu dari pagi hingga petang tiba. Setiap hari sebelum berangkat ke sekolah aku selalu menghampirinya untuk berangkat bersama. Berseragam biru muda , rok warna senada dengan rompi dan topi warna biru tua. Tak lupa rambut berkuncir dua bak tanduk kerbau. Ya, selera kami selalu serupa.

Bekal makan siang bikinan ibu pun tak lupa kami bawa. Karna nantinya pasti kami makan bersama dengan lauk yang sama pula. Sari membagi lauknya untukku. Dan akhirnya kami selalu bertukar lauk.

“Dek, ini ku bagi telurnya.” Bersamaan dengan mendaratnya separuh telur dadar  di mangkukku.

“Eh iya mbak, kalo gitu ini juga buat mbak.” Kubagi satu perkedel kentang buatan ibuku.

Dan setiap makan siang kami selalu bertukar jajanan dan makanan. Apapun rupanya. Hingga tanpa sengaja kami dianugerahi julukan saudara tak terpisahkan oleh teman-teman. Bukan. Malah ada yang bilang kami saudara kembar tapi tak serupa. Semuanya selalu sama.

Sore hari, sepulang dari sekolah kami kompak bermain dan berbagi apa saja. Dan itu hampir terjadi setiap hari. Baru sekitar sebelum maghrib menjelang, aku baru pulang untuk mandi dan belajar. Tepatnya mencoba untuk beljar, karena sesungguhynya aku malas untuk belajar. Dan begiulah seterusnya.

–***–

Waktu beranjak dan berlalu begitu cepat hingga kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Tempat menimba pelajaran dengan kesulitan yang lebih disbanding tingkat Taman Kanak-kanak. Dan tanpa disadari pula pola berpikiru dan Sari berbeda. Semakin kami bertumbuh, ternyata kesenangan dan minat kami berbeda. Aku lebih cuek dan bersikap ap adana. Tapi Sari cenderung lebih feminim dan benar-benar menunjukkan kalau perempuan itu selau dipenuhi dengan tata krama. Bukan, tepatnya aturan. Sari lebih banyak diam. Tak banyak pencilatan dan jingkrak jingkrak.

Tak tahu kenapa, tiba-tiba terpikir olehku untuk menjadi  seperti dia. Seperti Sari yang sekarang. Wanita anggun yang tak banyak gerak dan terlihat begitu percaya diri. Karna jujur saja, aku merasa betapa kampungannya aku ini. Sangat ndeso. Rasanya tak ada salahnya mencoba menjadi orang yang lebih nggak ndeso. Meskipun aku berada pada posisi yang bukan diriku, karna itu memang bukanlah diriku yang sebenarnya. Itu adalah diri Sari.

Hingga di suatu malam, pada acara pengajian masjid di kampungku. Tetap dengan diriku yang hanya meniru Sari dan Sari beserta teman-teman sekelasku.

“eh, kita masuk ke masjid aja yuk.” Elpi merengek masuk.

“Emoh ah, di masjid banyak cowok-cowoknya.” dengan aksen jaimnya Sari menolak.

Dan aku hanya diam sambil mengamati situasi yang pas sebagai diriku yang seperti Sari. Dalam hati aku berpikir keras: “bagaimana ya. Kalau di sini terus gelap terus banyak nyamuk, kalau ke masjid banyak cowok-cowok, kan Sari gak mu dekat-dekat dengan cowok-cowok.”

Meskipun pada kenyataannya: Di masjid posisi cowok dan cewek terpisah jauh, karna santri putrid berada di teras, sedang yang putra di dalam masjid.

Dan akhirnya aku dan Sari tetap di luar masjid sedang  teman yang lainnya kembali ke masjid karena gak mau habis oleh serangan nyamuk. Sebenarnya aku tak semudah itu dikalahkan oleh nyamuk. Entah kenapa aku sangat kebal degan gigitan nyamuk. Meski nyamuk-nyamuk menggigitku, yang terasa hanya gatal sebentar dan tak ada bentol besar yang membekas seperti Sari. Rupanya sari sangat sensitif dengan nyamuk. Nyamuk belum menggigit saja badannya sudah bentol-bentol merah. Aduuuh, kok bisa sesensitif ini kulitnya, gumamku sedikit heran.

Hal itu terus mengganggu pikiranku. Begitu berbedanya aku dan Sari. Entah hanya sugesti  atau hal  yang menular, akhir-akhir ini pun aku juga sangat sensitif dengan nyamuk. Badanku gampang sekali berbintik-bintik merah dan bentol setiap ada nyamuk di sekitarku. Dan hal itu berlanjut hingga kini. Sekarang ini. Detik ini. Ya, aku hanya bisa pasrah dengan kesensitifan ini, hmmmm. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s