another place to share

Produktif di Pagi Hari

Pagi hari bagi saya adalah berusaha memaksimalkannya untuk membaca dan menulis. Meskipun pada kenyataannya hampir selalu gagal terealisasi. Kalau tidak kembali terbuai mimpi, paling hanya berhasil membaca dua sampai empat halaman saja. Untuk alasan kedua, penyebab utamanya  adalah kelemahan saya dalam kurang bisa memaksimalkan diri untuk melakukan multipel pekerjaan dalam satu waktu. Tentu saja masing-masing pekerjaan harus selesai dengan baik atau setidaknya salah satunya. Inilah masalah saya. Dan jujur, saya ingin segera menuntaskan masalah ini.

Begini. . .

Menurut hasil penelitian para ahli (saya lupa siapa), keadaan otak setelah bangun tidur di pagi hari berada pada level produktif. Saya mengartikan bahwa otak mampu menyerap input dengan baik dan berpikir lebih jernih. Istilah buah-buahan masih fresh dan ranum. Hence, I just want to make a very beautiful and fresh brain of mine (istilah saya sendiri). And  touch the capability up itu sangat penting, apalagi di waktu-waktu produktif, yaitu pagi hari tentunya. Dan buat saya, inilah waktu yang tepat untuk membaca dan menulis.

Tapi. . .

Ada kebutuhan rohani yang saya butuhkan juga. Karena saya seorang muslim, banyak pengajian dan kuliah keagamaan baik di radio maupun televisi yang menyiarkannya di waktu pagi.Dan almost of them terjadi pada waktu yang hampir bersamaan dengan waktu-waktu produktif itu. Dihitung-hitung saya hanya mempunyai waktu kurang lebih lima belas sampai tiga puluh menitan untuk membaca dan menulis yang efektif. Itupun belum tereliminir oleh twitter dan facebook. Jadi, saya merasa kurang bisa memaksimalkan kemampuan saya untuk belajar di waktu produktif tersebut. Karena keduanya terjadi pada waktu yang hampir bebarengan. That was the problem.

Solusinya. . .

Memperketat detail waktu (alah).

Selesai berbagi dan menjalankan kewajiban kepada Sang Pemilik pagi plus ritual yang lainnya, saya berusaha hanya fokus pada buku atau materi penunjang yang ada. Tak ada patokan resmi skala waktunya. Yang penting sesuai dengan kadar ke-mood-an hati. Baru setelah itu mendengarkan siraman rohani atau kuliah subuh dan semacamnya. Untuk referensi saja, biasanya saya anteng di Radio RAS FM (95.5 FM) atau Trijaya FM (106.4 FM). Kalau di TV, hampir semua stasiun menyiarkan kuliah subuh. Then, run to Pagi Jakarta di O-Channel (khusus Jabodetabek saja kayaknya yang bisa) dan melihat-lihat kabar negeri ini sebentar. After that, streaming di mana hati ini ingin berlabuh dan stay tune terus di sana. Alasan memilih radio adalah karena bisa tetap lengket kemana pun kaki ini melangkah. Mustahil kan bawa-bawa tivi saat bepergian. So, sewaktu dalam perjalanan menuju tempat kerja pun, masih tetap bisa menggali informasi keadaan sekitar kita. Finally, berusaha istiqomah pada kebiasaan pagi saya. Oia, waktu untuk berbenah diri di luar waktu dan/atau sewaktu dengan mendengar radio lho. Fleksibel dan lebih efisien.

FYI —> Meskipun waktu sempit, keinginan belajar harus meluap-luap, tetap fokuskan pada prioritas utama. Dan yang lebih penting, melakukannya dengan rutin dan senang. Meski kuantitasnya sedikit tapi dilakukan dengan rutin plus hati yang tenang, InsyaAllah inilah yang akan memberikan hasil yang lebih baik. Jangan lupa selipkan sepotong  senyuman untuk pagi yang lebih indah. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s