Puisi bisu

Petang ini, di sudut ruang ini
Sendiri ku terduduk kaku
Menekuk kaki dan tangan setara bahu
Lalu kepala tertunduk lesu

Malam datang semakin menekanku
Memilih yang bahkan tak ada di kepalaku
Mencoba bisa namun tetap saja buntu
Memaksa pikirku terjaga,  setidaknya gambaran seperti apa ia

Aku lalu mengurai kata-kata syahdu
Menemani kalbu yang piatu
Sembari berdendang lagu pilu
Karna tak ingin lagi ku jadi benalu

Tertuju puisi ini untukmu
Berhiaskan tulus do’a dan cinta
Bertabur asa dan sekelopak padma

Tahukah kau,
Masih terus kunanti balasanmu
Tapi tak kunjung ia nyata
Aaah, kau pasti tak membacanya
Puisi kemarin malam yang kukirimkan untukmu
Entah mengapa kau tak senang menengoknya
Mungkin diksinya tak seindah buatan nasyir
Atau bahasanya terlalu getir
Tapi percayalah, inilah puisi kejujuran tentang jiwaku
Jiwa yang bisu

Ciputat, 18/2/2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s