another place to share

Diamku Penuh Rindu

Akulah  jiwa yang berbaju rindu
Hanya terdiam dalam degup jantung yang haus ingin bertemu
Mengiba kalbu yang selalu takjub akan dirimu
Walau rindu mendayu untuk melantun
Betapa tak kuasa kuucap kata rindu

Dalam senang dan benci, aku hanya seonggok diam
Tak berpunya kata apalagi frasa
Hanya terpaku dan pasrah menyimpan suara
Suara yang mungkin berarti sara bagi sebagian mereka
Namun sungguh ungkapan kejujuran yang terlalu lama tertahan

Sementara ini ragaku serasa mati
Namun jiwa terus bernyawa mencari yang hakiki
Menguliti diri dengan beribu cerca maki-maki
Karna suara kritik sumbang penuntun kebenaran tak terdengar lagi hingga kini
Bahkan oleh hati yang sarat seribu indera, ia benar tak ada arti

Lalu tinggal aku berkawan gelap dan getirnya perjuangan
Mencerna sejauh mana manuskrip yang telah tertulis bekerja
Laikkah?
Atau sama sekali tak terkira buruknya?

Ya, tetap saja aku hanyalah diam yang penuh rindu
Berlabuhnya tanya dalam jutaan kalimat haru
Penikmat setia opera hidupku yang terasa kaku
Selalu tertawa atas polah laku diriku yang lucu

Dan dari diam diriku kukemas rasa percaya untuk mengucap rindu
Pasti ‘kan kutemui  jawab atas semua tanyaku

 

Ciputat,26/3/11

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s