another place to share

When “Ulat Bulu” Spread Around You

Image source: google

>>Fenomena ulat bulu…<<

Dengar nama “ulat bulu” adalah hal yang biasa dan tak terlalu mengagetkan buatku. Tapi dengar berita ulat bulu merajalela di mana-mana hingga sekampung adalah hal yang luar biasa. It’s surprised. Dan yang spontan  terlintas di benakku dan semua orang kayanya >>”kok bisa ya?”. Well, this is a very spectacular thing yang happening banget kan. Feomena yang cukup mengagetkan Karena ulatnya adalah ulat bulu. Bukan ulat jati, johar, dan sebagainya.

>>Ulat bagiku…<<

Ngomongin ulat, biasa aja tuuh. Mungkin terdengar sombong ya, tapi bagiku ulat sudah jadi vocab yang tak asing di otak, pikiran, badan, bahkan hidupku (lebaiiii). Ulat jati dan johar yang merajalela sudah sering kutemui di kampungku saat penghujung musim hujan atau awal musim panas. Bagi sebagian orang yang sensitive terhadap kedua jenis ulat ini pasti akan merasa gatal-gatal dan bentol-bentol merah di badannya. Tapi tidak berlaku buat yang berkulit badak seperti saya ini. Ada kebiasaan unik yaitu mencari kepompong dan kemudian menyantapnya setelah melalui proses masak memasak yang gak terlalu rumit. Bahkan aku dan teman-teman sering bermain-main dengan ulat jati ataupun johar untukmenakut-nakuti teman yang takut atau pun alergi dengan ulat. Jadilah ulat jati dan johar teman kami. Dan ulat-ulat itu akan hilang dengan sendirinya setelah musim panas kok. Laluuuuuu, lahirlah kupu-kupu cantik yang beterbangan kesana kemari. Paling indah dan enak untuk menangkap kupu-kupu ya pasti pagi hari dunk. Antara jam 9 sampai 11an pagi. Matahari masih belum tinggi dan menyengat. Sayangnya hal ini terjadi saat kondisi cuaca masih bersahabat dan tidak amburadul seperti sekarang (baca: efek global warming). Jarang ditemui tahun-tahun belakangan ini. So, “ulat” and/or “ulat bulu” were familiar to me. But not “ulat bulu” spread around the town ya. Aku pun kalo dengar ulat bulu juga merinding dan termasuk orang yang sensitive dengan ulat bulu.

>>Ulat bulu dan gejala alam…<<

Melihat cuaca yang tak menentu seperti sekarang ini, ulat bulu sepertinya sulit untuk bermetamorfosis. Masa ulat untuk berubah menjadi kepompong tak sebanding dengan banyaknya telur yang terus ditetaskan. Ulat  tak mungkin bermetamorfosa menjadi kepompong saat hujan terus-terusan mengguyur. Mereka membutuhkan hawa yang hangat. Walhasil, populasi ulat semakin banyak kuantitasnya. Cukup masuk akal seh, dulu-dulu (baca: waktu alam masih bersahabat), kemungkinan terjadinya fenomena yang mencengangkan seperti ini sangat kecil. Karena siklus dari telur–> ulat–> kepompong–> kupu-kupu sesuai dengan keadaan alam. Waktunya pas. Tak seperti sekarang. Benar kan ya? Kalo salah mohon dikoreksi 🙂

>>Wabah ulat bulu dan peringatan Tuhan…<<

Tentang ulat bulu yang meraja lela, apa pendapatmu?? Jujur baru saja terlintas di pikiranku tentang munculnya wabah jutaan kodok pada masa Nabi Musa sebagai peringatan bagi Fir’aun yang menentang untuk mengakui Allah SWT sebagai Tuhan. Hemmmmmm, jadi sedikit ngeri dan berpikir apakah ini peringatan dari Allah SWT? Entahlah, hanya Allahlah yang tahu. Kalaupun memang benar, semoga kita bisa mengambil hikmahnya ya. Dan juga memperbaiki semua kesalahan yang telah kita perbuat. Setidakny Allah masih sayang sama kita karena masih berkenan member peringatan, bukan azab. Na’udzubillahimindalik… Allahu a’lam.

 [-Kesimpulan-]

1. Yuuuk kita hidup lebih ramah lagi dengan alam. Kalo diperhatikan, ulat bulu ini kan karena factor alam. Dan kitalah yang berperan besar menentukan keadaan alam. Coba look at our selves lagi deh. Gaya hidup kita sudah sehat kah?Atau malah fatal banget? Kalo mau alam kembali baik ke kita, gak ada salahnya deh kalo kita hidup lebih bersahabat dengan alam. Toh kita juga gratiiiiis dapat fasilitas dari alam kan. ^_^
 
2. Aku bukan orang yang sempurna, tapi gak ada salahnya kan kita saling mengingatkan tentang sikap pribadi kita dalam hubungan dengan Tuhan dan makhluknya pastinya. Sapa tahu Tuhan sedang memperingatkan kita untuk bersikap dan berbuat lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang lebih baik itu gak buruk kok. Dan kelihtannya kita akan lebih damai dan nyaman dengan hal-hal yang baik deh.. ^_^ 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s