When Our Earth says: “HELP!”

#Please kindly read this. Paling butuh 5 menit-an saja kok.. ^^. Thank Youu#

Image source: google

Hari ini Hari Bumi kawan. Kau tahu, rasanya sama seperti kemarin. Saat Hari Kartini diperingati dengan aksen kartininan dan lain sebagainya. Aku tetap dengan pertanyaan yang sama di kepalaku. “Udah berbuat apa kamu jengbuaaaaaaass untuk bumimu??????!!!!!!!!!”. Kali ini dengan ‘tanda tanya’ dan ‘tanda seru’ yang lebih banyak. Dan objeknya bumi, bukan lagi perempuan.

Dan lagi-lagi aku memikirkan cara yang bisa kulakukan. 3R, buang sampah pada tempatnya, hemat air, listrik, ganti tisu dengan sapu tangan dan serbet, nanam tanaman (at least, 1 man 1 tree), kemana-mana naik kendaraan umum, ngurangin kantong plastik, berusaha memakai produk-produk ramah lingkungan (baca: sesuai budget pastinya), dan yang sangat sulit yaitu untuk stop membeli buku pun sudah coba kulakukan. Ya walaupun gak bisa setiap waktu, serta merta semua, tapi kan setidaknya satu persatu kucoba lakukan dan tularkan ke teman sepergaulan dan seperjuangan. Lewat cyber media, mass media, event-evet go green,  dan yang bisa kujangkau lah. Sebisa mungkin kutularkan sedikit kesadaran dalam diri ini. Kesadaran untuk semakin cinta dan sayang kepada bumi. Dan benar-benar aware sama lingkungan.

Tapi kawan, kau juga tahu. Semakin kesini ternyata bumi tak juga membaik dari sakitnya. Prihatin. Miris. Sedih rasanya. Betapa susahnya ya manusia seperti kita ini untuk berlaku baik, at least for their selves gitu. Sedangkan Tuhan Yang Maha Sangat Baik, melalui buminya memberikan fasilitas yang serba gratis tanpa bunga apalagi agunan buat manusia-manusiaNya. [lesson 1:Hard to believe ternyata manusia itu sombong dan selalu mau yang gratis-gratis aja ya, bahkan mungkin yang baik sekalipun]   

Dan yang bikin aku tak habis pikir lagi adalah, masih banyaaaaak banget orang yang gak sadar kalau lingkungannya sedang mengancam hidupnya. Parahnya lagi, ternyata banyak juga yang udah pada tahu gejala tak baik ini, tapiiiiii. . . . . . . . . . . (silahkan kau lanjutkan sendiri). [lesson 2: manusia tetap tenang-tenang saja meski sedang dalam posisi sangat tidak aman, it means……???!]

Entah sudah tak punya empati atau apa lah. Harusnya kelangsungan hidup dan anak cucu menjadi prioritas utama. Gak mungkin juga ‘kan kita hidup seumur hidup di bumi ini. Belakangan yang nampak dan terdengar adalah riuhnya para manusia berebut uang dan tahta. Ckckckckck. Padahal semua orang juga tahu mereka sudah punya lebih dari cukup yang namanya HARTA. Sangat jauh lebih kaya dari pada aku lah pastinya. Kalau yang punya usaha perumahan, tak ada henti-hentinya promo di sana sini, dengan sedikit saja memikirkan tata ruang dan lingkungan yang baik. Setelah laku, bangun lagi, tancap beton lagi. Hellooooow, ini tanah udah tambah ambles bapaaaaak!!! Yang udah punya kendaraan,  beli lagi,  ganti lagi, baru lagi. Gadget baru keluar di pasaran, ganti lagi, baru lagi. Lalu sampah-sampahnya mau dikemanakan bulek dan paklek sayaaang. Bagi rongsokan yang ramah lingkungan mungkin bisa direcycling. Nah yang tidak, apa kabarnya?!! Nah lhooo.. [lesson 3: manusia tak pernah ada puasnya, pluuus suka khilaf kalau urusannya udah sama lingkungan. Aji mumpung. Mumpung gratis. ckckckckck]

PERINGATAN:  coretan ini dimaksudkan untuk menyadarkan kita agar LEBIH TANGGAP dan SADAR akan ancaman besar yang ada di hadapan kita. Bila ada rasa tersinggung dan lain sebagainya, segera cek kadar ke-aware-an Anda terhadap lingkungan dan diri Anda sendiri!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s