another place to share

Gradasi Edukasi

Long time no see kawan…

Tetap kuberharap kita selalu seirama dalam detak langkah menuju pendewasaan diri. Manusia yang berarti secara hakiki. Tak hanya ‘tuk diri sendiri tapi juga kedamaian hati sesama. Pribadi-pribadi (yang kuyakin) luar biasa di luar sana.

Beberapa hari yang lalu, 2 Mei, saat detik-detik kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, sekelumit tanya menyeringai setiap kucoba memaknai HARDIKNAS. Tentang perkembangan edukasi di negeri ini. Tentang ilmu, pengetahuan, mental, dan seluk beluk pendidikan yang telah tertanam dalam otakku. Yang nyata-nyata telah menyatu dengan diri serta pola pikirku. Tanpa sadar, apa yang diajarkan dan diucapkan oleh guruku menjadi doktrin yang mengarahkanku untuk membentuk pola pikir seperti apa yang telah diajarkan. Dan itulah yang disebut dengan tujuan dari sebuah proses belajar mengajar.

Sangat kontras dengan pikirku. Menurutku, berhasilnya suatu proses belajar mengajar itu manakala pihak yang diajar mampu berpikir di luar dari apa yang telah diajarkan. Tak cukup hanya pada apa yang telah diajarkan saja. Sehingga pihak yang diajar bisa berpikir lebih terbuka, luas, dan objektif dalam menilai suatu ‘ajaran’. Tidak terkungkung pada satu kerangka pikir saja. Rasanya kita bisa lebih kritis dan tak mudah diadu domba.

Tapi sayang, tak ada ruang lebih untuk kebebasan pikir dan interpretasi. Yang lebih disayangkan lagi hal tersebut berlangsung cukup lama dalam masa-masa produktif kita. Bayangkan saja, rata-rata individu di Indonesia selalu dicekoki dan diinfus dengan doktrin selama 12 tahun. Dan belakangan baru kutahu ada sesuatu yang missing tentang apa yang telah kuterima dan kutahu sebagai sesuatu yang benar. Bahkan ada tendensi distorsi sejarah dan pemahaman. Wah, gawat kalau seperti ini. Lalu, salah siapa?

Kuyakin setiap dari pendidik memiliki jiwa yang mencerdaskan dan penuh harap untuk bisa mencerdaskan putra-putri bangsa. Kuyakin mereka memiliki cara yang sangat kreatif untuk bisa merangsang argumen dan pandangan siswa terhadap suatu hal. Tidak melulu selalu memberi input pada siswa tapi juga siap menerima dan menampung pandangan siswa. Sayangnya mereka pun juga harus tunduk pada apa yang telah diatur. Durasi dan porsinya selalu sudah tertulis dalam buku. Kalau tak salah, itulah potret sekolah negeri.

Lagi-lagi sangat jauh dengan swasta. Sejauh yang kutahu banyak SBM (Sistem Belajar Mengajar) yang menurutku produktif di sekolah swasta. Dan para partikulir pun juga lebih berani dalam menentukan sikap dan metode. Tak ketinggalan pula materi. Karena kualitas masih dinomor wahidkan. Dan terbukti kemampuan mereka rata-rata lebih unggul. Baik mental juga pengetahuan. Namun sekarang sudah mulai menjamur sekolah negeri yang mencoba menerapkan SBM seperti sekolah swasta. Well, there’s a hope for the better education. So, mari selalu berdo’a dan mengupayakan sistem edukasi yang terbaik bagi putra-putri bangsa. KOBARKAN SEMANGATMU!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s