Potensi Edukasi

Pendidikan, pendidikan dan lagi-lagi pendidikan. Masalah struktural inilah yang ternyata masih di-nomor-sekian-kan oleh kita. Siapa pun kita, kita lah yang bertanggung jawab atas pendidikan kita sendiri. Rasanya skeptisme terhadap pemerintah menjadi stimulus bagi saya untuk menyebut kitalah (bukan pemerintah) yang laik untuk bertanggung jawab atas edukasi dan kecerdasan kita sendiri (sebagai bangsa). Meskipun sangat jelas tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 “…dan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.” Tapi hanya sekian persen saja yang dapat tercerdaskan. Sisanya kemana?!! Menjual otot banting tulang, memutar otak agar bisa bekerja dan menghasilkan uang tentunya. Uang buat apa? Buat makan tentuya. Mereka tak bisa belajar karena sekolah pun juga bayar. Lalu uang dari mana sedangkan dana dari pemerintah untuk pendidikan hanya tersisa recehan saja saat sampai di tangan rakyat kecil. Sangat jauh dari cukup. Jadi intinya, satu orang bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Setidaknya untuk meminimalisir spekulasi bahwa kita ini bangsa yang bodoh dan tak punya kemauan untuk belajar.

Lalu, bagaimana dengan BOS yang (katanya) memberikan biaya cuma-cuma alias gratis bagi pendidikan dasar dan menengah? Sejauh pandangan saya, tak sepenuhnya dana itu sampai ke tangan rakyat. Berdasarkan survey langsung ke tokoh akademisi sekolah, cukup beragam jawaban (atau mungkin alasan) kenapa tak sepenuhnya dana tersebut diberikan kepada yang berhak. Mungkin survey saya tidak valid karena tidak mewakili setidaknya 80% sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun setidaknya sedikit tercium indikasi ke-tidak-beres-an. Secara global dapat disimpulkan bahwa pengalokasian dana tersebut tergantung pada kebijakan sekolah masing-masing [terlepas dari usaha untuk menjaga kredibilitas sekolah].

Yang men-shock-kan saya waktu lihat sekolah negeri yang SPP tak bayar, buku masih bayar, dan dana-dana lain untuk kemakmuran warga sekolah juga masih dipungut. Mungkin siswa [dalam hal ini wali siswa] tak kuasa untuk menyampaikan keberatan karena memang semuanya sudah terprogram dan disodorkan serta mau tak mau (paksaan halus) harus mau untuk setuju. Karena memang tak ada daya dan kuasa untuk bilang ‘tidak’ atau sekedar menyampaikan gagasan. Pertanyaannya kemana dana BOS itu? Jawabnya lebih unbelievable. Dana itu tak cukup untuk menjalankan program belajar mengajar. Padahal, prediksi pemerintah sewaktu bagi-bagi anggaran tentu sudah memperhitungkannya juga. Bahkan seingat saya, anggaran dana tersebut akan lebih dari cukup [terlepas dari kurs dan keadaan perekonomian Indonesia].  Ya, setidaknya untuk menjalankan kegiatan belajar mengajar, saya rasa cukup.

Jadi, daripada menunggu dana yang tak kunjung nyata, lebih baik kita menyemangati diri sendiri, menjaga passion untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Dan berusaha semaksimal mungkin untuk belajar di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Walau apa pun rintangan dan beratnya menuntut ilmu. Sungguh ilmu itu bertebaran di lini kehidupan kita bila ada kemauan dari kita. Karena potensi dan kesempatan itu menanti untuk kita manfaatkan. Yakinlah bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang penuh potensi dan sedang menunggu kesempatan untuk pendidikan terbaik. Tetap semangat untuk memperjuangkan pendidikan bagi diri sendiri kawan. Pendidikan merupakan pilar kehidupan yang pokok dan asasi. Keep fighting!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s