Planet Berbaju Plastik

Melihat dan mendengar bumi sedang sakit. Kian hari kian bertambahnya tumpukan sampah yang merajalela di penjuru dunia. Hari lingkungan hidup patut digalakkan setiap hari. Agar tak hanya seremonial belaka setiap tanggal 5 Juni saja. Konsistensi dalam memperhatikan lingkungan dalam level sangat ekstrim sudah lebih dari dibutuhkan saat ini. Beberapa hari yang lalu saat menonton acara televisi bertema lingkungan. Saya dibuat merinding sekaligus prihatin serta miris. Jutaan ton bahkan lebih sampah plastik mengapung di perairan samudera atlantik. Semua sampah yang berasal dari berbagai wilayah bermuara ke sana. Walhasil, sampah-sampah tersebut hanya menumpuk terus dan terus tanpa berkurang sedikitpun karena proses peleburannya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Dan itu pun hanya bisa terjadi dengan bercampurnya para plastic tersebut dengan sampah yang sedang dalam masa fermentasi. It means, sangat mustahil sampah-sampah itu akan bisa hancur melebur dan berproses membumi jika berada di tengah-tengah samudera seperti itu. Bahkan untuk sampah plastik yang memiliki kandungan zat adiktif pun baru bisa hancur setelah 2 tahun. Itu pun juga bila bercampur dengan sampah yang sedang berfermentasi. Sedangkan jumlah pemakaian plastic setiap hari terus bertambah. Tak sebanding dengan jumlah plastik yang baru bisa hancur setelah dua tahun proses peleburan. Rasio paling sederhananya seperti ini. Minimal 1 orang memakai 1 plastik per harinya. Dan dalam 2 tahun (730 hari) manusia sudah menggunakan 730 kantong plastik. Sedangkan 1 plastik hancur dalam waktu 730 hari. Jadi, 730 dipakai : 1 musnah. Itu rasio 1 orang saja. Bagaimana dengan jumlah mansia di seluruh penjuru dunia ini?? Unbelieveble!!! Tak terbayangkan berapa. Jadi, tanpa disadari realitanya kita sedang menimbun bumi (bahkan diri kita) kita dengan plastik. Neurotika macam apa ini.

So, what should we do?
Tentu saja menstop penggunaan plastik. Dan mencari cara bagaimana mengurangi konsumsi kantong plastik. Yang terbesit dalam benak saya, cara sederhana namun mudah-mudahan bermakna:

1. Beli dan miliki satu kantong besar yang muat digunakan sewaktu belanja Bisa kantong dari kain, plastik daur ulang menjadi tas belanja, keranjang belanja,dan lain sebagainya. Yang lebih penting lagi untuk selalu menyiapkannya di tas. Jadi kalau sewaktu-waktu pergi dan tiba-tiba ada keperluan yang ingin dibeli, tak usah lagi memakai kantong plastik dari sana.

2. Harus dan sepertinya perlu bagi setiap pasar swalayan atau tempat belanja yang Membagikan kantong besar yang bisa dipakai untuk berbelanja. Sepertinya bisa untuk CSR yang ramah terhadap lingkungan bagi ritel atau pertokoan tersebut. Tapi cara ini sepertinya masih banyak kekurangan dan kurang efektif.

3. Membawa tempat sendiri saat membeli makanan Ketika hendak membeli bubur, soto, lauk, nasi, es, dan lain sebagainya, mulai biasakan untuk membawa wadah/tumbler sendiri deh. Karena kemasan sekali pakai yang kita gunakan juga sudah berkontribusi menambah sampah. Betul tidaaaak?

4. Membeli barang yang memakai kemasan plastic sekalian yang besar dan refill saja Penting untuk membeli sabun, shampoo, deterjen, dan sebagainya sekalian yang berukuran besar. Jadi tak harus sering membeli. Dan bila habis cukup beli refill yang besar pula untuk mengurngi penggunaan plastik.

5. Mungkin sepele, tapi penting! Tak usah memakai plastic untuk menutupi tempat sampah Biasanya banyak yang khawatir kalau tempat sampahnya kotor, maka, dilapisi lagi dengan kantog plastik. Lupakah kita bahwa fungsi tempat sampah sebagai wadah penmpung sampah yang notabene kotor. So, tak usahlah melapisinya lagi dengan kantong plastik. Kalau kotor, kita bisa mencucinya bukan. Praktis dan simple.

6. Nah, ini yang agak sensitif neh. Kurangi pemakaian popok bayi instant (pampers) dan juga pembalut wanita. Arena ternyata penelitian membuktikan bahwa inilah benda tersulit untuk terurai. Artinya membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun. Oh no. Solusinya, back to nature saja. Memakai popok bayi kain katun yang berdaya serap tinggi. Bila sulit dicuci, maka ibu bayi bisa mengkonsumsi jamu agar pop dari bayi tak baud an mudah dicuci. Sedangkan para wanita bisa mensiasati dengan kain berdaya serap tinggi seperti katun sebagai pengganti pembalut. I’ve been trying it girls. It works. No complain y, karena kenyataannya, para pendahulu kita juga menggunakan kain lho (sebelum ada pembalut).

Itu yang bisa saya bagi kepada kawan semua. Sangat sederhana dan semua orang bisa melakukannya kok. Mudah-mudahan bermanfaat. Paling tidak agar bumi ini tak terlanjur dipenuhi plastik. Let’s save our earth together. Selamat Hari Lingkungan Hidup ^_^

Advertisements

4 thoughts on “Planet Berbaju Plastik

  1. absolutely agreeeeeeee doed. Meskipun syusahnya minta ampuun, tapi tetep harus dibiasakan hidup normal n back to nature again. Yang lebih susah lagi nularin hidup ramah ke orang lain. paling tidak kan bisa saling mengingatkan gtu.. Pokoknya semangaaaat menjaga bumi (lebai). We are the agents of change, aren’t we?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s