Gundul-gundul Pacul

Mengenang masa kanak-kanak…,

Gundul-gundul pacul cul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wakul kul, gembelengan.
Wakul ngglempang segane dadi sak latar.
Wakul ngglemplang segane dadi sak latar.

Hmmm, lagu zaman saya kecil yang sering saya nyanyikan bersama teman-teman. Lagunya yang riang tak pernah membuat kami bosan untuk mendendangkannya. Hanya saja dulu saya hanya menyanyikannya, tahu artinya, tanpa memikirkan maksud diciptakannya lagu itu. Makna apa yang terkandung di dalamnya. Begitu juga sekarang ini. Diperhatikan, lagu dolanan “Gundul Pacul” ini membuat saya tertawa. Kepala gundul atau botak memang licin. Dan bila membawa bakul di atasnya pun pasti akan jatuh. Walhasil nasi yang ada di dalamnya pasti tumpah dan berserakan di lantai. Bisa jadi lho menyebar sehalaman.Karna saking banyaknya nasi yang dipanggul. Tak peduli banyak atau sedikit, yang penting ada nasi. Kurang lebih begitu pemahaman kontekstualnya.

Aaaaah, menggelikan dan sangat membuat riang. Itu lah alasannya diciptakan lagu dolanan. Untuk menghibur. Makanya tak boleh menyepelekan lagu-lagu daerah. Hebatnya lagi, lagu-lagu ini tanpa sensor karena bisa dinyanyikan oleh semua umur. Di balik kesederhanaannya,tersimpan nilai yang luar biasa mahalnya, kebahagiaan. ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s