Elegi Bangsa Tak Kunjung Usai

Terulang lagi kasus TKW yang dijatuhi hukuman mati. Kali ini Ruyati, TKW asal Karawang yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Saudi Arabia harus menerima hukuman pancung dengan dakwaan pembunuhan. Hingga eksekusi telah dilakukan, belum ada kepastian berita tentang jenazah Ruyati. Dan lagi-lagi pemerintah seperti tak mau dengar dan tutup telinga. Belakangan ini pemerintah terlihat tak punya nyali dan cenderung terlalu banyak berteori. Bukan hanya masalah TKW saja, problematika yang terjadi dalam negeri tak kalah terabaikannya. Bukannya berusaha mengantisipasi, namun hampir selalu berbuat setelah hal terburuk sekalipun menimpa rakyatnya. Amat sangat disayangkan pola kebijakan pemerintah kita ini. Pola tak mau susah dan mengambil resiko.

Bahkan hati nurani seorang biasa saja tergerak. Lalu bagaimana dengan hati dan perasaan pimpinan Negara yang memang bertanggungjawab penuh atas kelangsungan hidup rakyatnya? Tak sadarkah mereka bahwa rakyat adalah manusia yang berperasaan. Sedangkan Australia saja marah, sapi-sapi mereka disiksa saat henda disembelih. Apalagi manusia yang memiliki kedudukan dan derajat paling tinggi di antara makhluk-makhluk lainnya di mata Tuhan. Tak manusiawi sekali jika benar manusia kalah dengan hewan. Menyiksa binatang saja sudah bukan bagian dari kemanusiawian, apalagi menyiksa manusia dan tak berbuat apa-apa padahal melihatnya di depan mata. Sungguh sisi manusiawi kita sudah luntur termakan zaman. Seharusnya hal seperti ini sudah selayaknya menjadi bahan kontemplasi. Sebelum bertindak jauh untuk membawa negeri ini menjadi negara yang diakui dunia. Segala hal yang bekaitan dengan kesejahteran dan keamanan internal dalam negeri harus menjadi perhatian pokok. Kehidupan masyarkat adalah suatu sektor yang harus dinomor-wahidkan. Bagaimana mungkin di tengah berkembangnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan peningkatannya yang signifikan ini masih tak mampu menghidupi rakyatnya. Hingga rakyat harus membanting tulang bertaruh nyawa di negara orang. Jauh dari saudara dan keluarga. Apa yang seperti ini dinamakan negara dengan pertumbuhan ekonomi stabil. Negeri ini memang mempunyai seorang presiden, tapi seperti tak mempunyai pemimpin.

Beberapa bulan lalu pemerintah mencanangkan MP3EI (Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Dengan alokasi anggaran dana senilai Rp 3,913 Triliun untuk kurun waktu 2011-2025, diharapkan bisa meningkatkan pembangunan ekonomi. Tak bisakah mereka melihat bahwa masih sangat banyak hal-hal urgent yang membutuhkan banyak perhatian. Karena setiap ada proyek seperti ini adalah lahan untuk berebut uang dan kekuasaan. Apalagi nominalnya tidak sedikit. Dan implementasi di lapangan pun jauh dari maksimal. Seperti contoh kecil saja, banyak bangunan yang tidak memiliki standar bangunan yang baik karean tidak baiknya dalam proses pelaksanaannya. Alokasi anggaran untuk membeli bahan baku dengan kualitas tinggi disuntik sebagian dan sisanya dibelikan bahan yang berkualitas pas-pasan. Yang penting proyek tetap jalan. Toh mungkin menurut mereka tidak mungkin ada pengecekan hingga jenis-jenis bahan bangunan yang digunakan. Yang terpenting adalah proyek lancar dan berjalan tepat sesuai dengan target yang telah ditentukan. Urusan laporan adalah hal yang sangat mudah untuk dimanipulasi. Ya, semua lini telah termanipulasi untuk kepentingan pribadi. Ironisnya negeri ini terlampau memalukan.

Sektor pendidikan sebagai modal dasar setiap warga seharusnya menjadi perhatian utama. Karena tak selamanya semua warga harus bergantung kepada pemerintah. Dan pemerintah sebagai pamong dan pengayom masyarakat harus lebih bijak dalam memberikan bekal yang bermanfaat dan tepat guna bagi rakyatnya. Bila pendidikan merata dan dapat dinikmati oleh semua kalangan, tentu pengangguran tak akan semenumpuk sekarang. Tingginya tingkat pengangguran karena minimnya pengetahuan , keterampilan, dan pendidikan mereka. Sehingga tidak memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan juga BUMN kita. Pada akhirnya mereka terlantar tanpa bisa melakukan pekerjaan yang selayaknya di negeri sendiri. Sampai kapan penghasilan dan pemasukan kita habis untuk membiayai tenaga kerja asing yang gajinya luar biasa tinggi. Sedangkan kita memiliki potensi sumber daya manusia yang lebih dari cukup. Bahkan saking out of range, banyak yang memutuskan bekerja sebagai TKI/TKW.

Realitanya tak sedikit TKI/TKW yang sukses dan bisa mengumpulkan uang banyak. Namun banyak pula yang pulang hanya tinggal nama saja. Elegi bangsa negeri ini seperti tak berkesudahan. Rasanya seperti mempunyai presiden tapi tak mempunyai pemimpin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s