Mahalnya Pendidikan di Nusantara

23 Juli diperingati sebagai hari Anak Nasional…

Kehidupan anak-anak harus lebih di-nomor-wahid-kan. Seharusnya memang seperti itu. Tapi ternyata harapan belum terwujud sepenuhnya. Realita yang terpapar di hadapan masih jauh dari baik. Bagi anak-anak, masa-masa yang bertabur canda tawa dan bahagia tak seluruhnya bisa dirasakan oleh anak-anak Indonesia. Banyak anak-anak yang benar-benar merasakan damainya dunia anak. Tapi tak sedikit pula anak-anak yang harus merelakan masa keemasannya ditelan waktu dan keadaan.

Berikut sedikit dari sekian banyak kenyataan kurang menyenangkan yang dihadapi sebagian anak-anak Indonesia dalam hal pendidikan:

1. Banyak dari mereka tak bisa merasakan bagaimana memegang pena dan buku.
Jelas-jelas pemerintah menggalakkan ‘WAJAR 6 TAHUN’ dan untuk era millennium sekarang ini malah akan digalakkan ‘WAJAR 9 TAHUN’. Tapi anak-anak yang dari pagi sampai pagi lagi hidup di jalanan itu tak sempat memikirkan sekolah. Bisa bertahan hidup saja sudah Alhamdulillah. Bukankah edukasi adalah makanan pokok bagi bangsa ini. Mau jadi apa bila rakyat terus-terusan tak mendapatkan nutrisi pokok dalam kehidupan?

2. Sekolah sebentar tak jadi mengapa.
Anak-anak itu memiliki potensi dan kesempatan untuk belajar. Namun orang tua terpaksa memposisikan mereka dalam keadaan tak bisa melanjutkan sekolah. Banyak yang harus putus sekolah atau hanya menampatkan sampai tingkat dasar atau menengah saja. Alasannya adalah biaya, biaya, dan biaya. Di negeri ini, uang adalah benda penting. Padahal, untuk mampu bersaing dengan perkembangan zaman, pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi saya rasa diperlukan. Apalagi persyaratan untuk mendapatkan perkerjaan hampir 80% mensyaratkan lulusan diploma/ sarjana.

3. BOS ada, tapi entah kemana?
Mudah-mudahan kasus ini segera berakhir!! Memprihatinkan bukan main. Dana BOS yang sudah susah payah diupayakan untuk mempermudah proses belajar anak-anak, wujudnya hilang di tengah jalan. Sebenarnya hal ini sudah menjadi rahasia umum, tapi kenapa harus para anggota sekolah yang nota bene merupakan praktisi pendidikan yang harus berada di posisi terdakwa?? Dan sampai sekarang pun masalah ini seperti tertelan angin. Tak ada penyelesaian dan tak nampak wujud asanya.

Lalu sekarang? Pamong bangsa kita malah sibuk dengan problemanya sendiri-sendiri. Dan seperti melupakan begitu saja anak-anak bangsa yang merupakan tanggung jawabnya. Oh no, it’s ridiculously unbelievable!!
Semoga semua permasalahan bangsa sedikit demi sedikit mulai surut dan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Sehingga tak ada lagi anak-anak yang terlantar terutama dalam hal pendidikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s