Saat Jatah Hidup Kian Berkurang

Saat ingin menulis, saya sedikit heran lalu senyam senyum sendiri. Sebagian orang bilang bahwa adakalanya kita akan bertemu dengan kebetulan. Tapi saya yakin di dunia ini tidak ada kebetulan. Semua kejadian adalah kenyataan dan takdir yang tak terbantahkan. Tak ada yang bisa menghindar atas semua kehendak-Nya. Jadi, saya yakin Allah SWT sudah mengatur dan merencanakan semua ini terjadi. Dan hari ini, sekali lagi saya berbicara tentang angka 23, setelah beberapa hari yang lalu tentang tanggal 23 yang diperingati sebagai Hari Anak Nasional (baca Mahalnya Pendidikan di Nusantara).

Kali ini 23 berhubungan langsung dengan diri saya sendiri. Nominal 23 tahun adalah jumlah usia yang saya miliki sejak mata saya melihat indahnya dunia ini. Semesta yang bertabur bintang-bintang impian dan harapan. Disinari terang mentari, ditemani purnama saat malam ke-15 hadir menghampiri. Dan kemilau pengetahuan serta ilmu juga wawasan adalah sesuatu yang turut semarakkan indahnya semesta. Sedang dan akan selalu saya kejar. Bukan sekedar penghias diri semata, tapi sebagai keharusan. Kewajiban bagi saya, sebagai manusia biasa dengan begitu banyak kekurangan dan kelemahan. Agar keberadaan saya di bumi tidak sia-sia belaka.

23…, bukan lagi usia belia. Fase anak-anak juga remaja sudah terlewat dan tanpa terasa saya sudah di ambang pintu dewasa. Kedewasaan? Seperti apa ia sebenarnya?

Menurut saya dewasa itu benar-benar bisa bersikap dengan seharusnya dan sebaik-baiknya. Menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan cermat. Bisa memilah dan memilih apa yang benar dan tak benar. Berbicara seperti apa seharusnya berbicara. Bagi saya kadarnya tidak menyakiti orang lain sudah cukup. Dan tentunya bisa bersikap mandiri. Mandiri dalam arti global tentunya. Menurut saya semua orang dituntut untuk bisa mandiri sedini mungkin. Namun masing-masing pribadi memiliki persepsi berbeda-beda tentang mandiri juga dewasa itu sendiri.

Satu yang pasti, setiap tiba penghitungan genap berkurangnya jatah usia saya, saya berharap semoga diri ini mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Di atas segala kekurangan dan kelemahan saya, saya berharap agar saya bisa menjadi orang yang berguna bagi siapa pun, kapan pun, dan dimana pun selama nafas masih menyatu dengan badan.

Kali ini, tahun ini, 1 Agustus bertepatan dengan 1 Ramadhan 1432 H. Awal puasa bertepatan dengan hari lahir saya. Senang, syukur, bahagia, haru, semua menyatu. Rasanya nano-nano sekali. Harapan saya, semoga dalam sisa usia saya hingga maut menjemput nanti. Usia yang melekat pada diri ini bisa berbuah barokah. Bertabur berkah dan berlimpah anugerah. Semoga usia yang diamanatkan bisa benar-benar saya jaga dengan sebaik-baiknya amalan. Seindah-indahnya perbuatan dan semaksimal mungkin penghambaan pada Sang Pencipta, Allah ‘Azza wa Jalla. Amiiiin Ya Rabbal ‘aalamiin. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

*Terima kasih kepada kedua orang tua, saudara, keluarga, sahabat, teman, dan siapa pun yang pernah saya kenal juga yang tidak saya kenal, orang-orang yang telah dan akan memberikan begitu banyak inspirasi dan mewarnai kanvas hidup saya. Terima kasih. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s