another place to share

Aside

Indonesiaku Dahulu, Kini, dan Nanti.

Indonesiaku…,
Saat kuingat cerita-cerita guru juga para tetua tentangmu, ingatanku melayang pada bayangan-bayangan penuh kegetiran hidup. Menjalani hari-hari dalam dera cobaan dan ujian hidup yang tak tertanggungkan. Hidup dengan linangan peluh yang merembesi tubuh. Bahkan air mata darah berteman selalu dengan tubuh.
Detik demi detik kau lalui dengan perjuangan dan mempertahankan hidup. Menuruti dan melayani semua kata yang diucap penjajah. Tak ada daya menolak atau kau memilih meregang nyawa. Semua yang kau lakui didominasi kewajiban tanpa berpunya hak selain menghirup aroma ibu pertiwi yang suci dan sangat berarti. Semua demi sebuah kemerdekaan. Kebebasan dari kekangan dan tuntutan. Kebebasan untuk hidup dengan pantas dan layak. Kebebasan yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, yang kebanyakan disebut dengan Hak Asasi Manusia. Itulah hidupmu waktu itu Indonesiaku, 17 Agustus 1945, 66 tahun lalu.

Indonesiaku..,
Kini aku sungguh malu padamu. Tentang Indonesiaku yang kini seperti kau lihat. Bahkan aku tak tahu apa kau masih tega melihat dirimu yang kini. Dirimu yang dahulu dengan susah payah kau perjuangkan, kini malah dinodai para ‘serakah’ yang berebut harta dan kaya. Hari-harimu tak lagi dipenuhi semangat nasionalisme dan petriotisme. Malah oportunis dan koruptor merajalela. Dan sesama saudara saling sikut hantam tanpa belas kasih. Ah aku rindu kebersamaan dalam berjuang untuk mengisi kemerdekaan. Keharmonisan kehidupan yang dipenuhi dengan kedamaian.

Indonesiaku…,
Hari ini peringatan kelahiranmu. Memperingati kemerdekaan yang kau perjuangkan setelah 353 tahun lebih dikuasai penjajah. Seperti biasa, upacara akan digelar dimana-mana. Di seluruh penjuru negeri dari Sabang sampai Merauke. Dan aku sangat menanti saat-saat seperti ini. Meski setelah seremonial rutin tahunan harus bersiap bersedih kecewa tanpa kata-kata (seperti judul cerpennya Putu Wijaya). Ya, aku harus melihat kemelut negeri yang terlalu pelik. Bahkan aku tak tahu harus membantu apa. Yang bisa kubuat sekarang hanya menjadi bagian darimu yang berusaha menjaga suci dan murninya hadirmu. Sambil memohon kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa untuk menguatkan hati juga pikirku dari berbuat yang mengecewakanmu. Yang menodai tulus bersihnya kemerdekaanmu.

Indonesiaku…,
Maafkan aku yang belum mampu berbuat banyak untukmu. Marahlah sesukamu, karena Tuhan pun juga sudah murka atas sombong dan tak bersyukurnya diriku. Lekaslah sehat dan bangkit dari sakitmu, Indonesiaku. Karena aku yakin kau nanti akan benar-benar bisa merdeka. Merdeka yang bukan hanya ikrar semata. Merdeka yang sesungguhnya merdeka. Aku mencintaimu Indonesiaku, dan akan menjagamu, selalu.

Dirgahayu Indonesiaku yang ke 66 tahun.
M E R D E K A!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s