another place to share

Kakografi Oh Kakografiiii…..

Kakografi dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia

Dewasa ini bahasa mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Sebagai bahasa, yang memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi, bahasa terus mengalami perkembangan. Pengaruhnya pun menjalari segala aspek kehidupan. Yang selalu terpikir dalam benak saya adalah bahasa juga termasuk sastra di dalamnya mengalami perkembangan yang seperti apa?

Realitanya banyak sekali bahasa prokem yang kian santer dan juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Bahasa juga sastra pun mengalami hal yang sama. Hanya saja, yang nampak di permukaan hanyalah pesatnya bahasa prokem/ gaul dalam kehidupan sehari-hari khususnya remaja atau yang sering disebut ABG. Belum lagi dalam berkomunikasi sehari-hari bahasa yang digunakan adalah bahasa umum yang dianggap lumrah (notabene belum tentu baku). Dan itu adalah hal yang wajar dalam suatu bangsa.
Yang menjadi masalah bagi saya adalah bahwa pemuda zaman sekarang kian tak begitu peduli dengan perkembangan bahasa dan satra Indonesia. Kalau pun ada, hanya segelintir saja. Bisa dilihat dari nilai rata-rata pelajaran Bahasa Indonesia yang hanya mencapai nilai tujuh bahkan ada yang kurang dari itu. kesulitan dalam mempelajari bahasa Indonesia diakui cukup sulit oleh sebagian pelajar. Dan inilah salah satu alasan yang membuat remaja/ pelajar cenderung tak terlalu menaruh perhatian lebih kepada bahasa Indonesia. Walhasil, kakografi bertebaran di sana sini.

Kakografi: tulisan yang sulit dibaca; ling ejaan yang menyimpang dari ejaan sesungguhnya.

Saat menemukan kata kakografi dalam KBBI, langsung terpikir bahwa bahasa dan/ atau tulisan yang umumnya disebut alay adalah termasuk salah satu kakografi yang sedang naik daun. Dan kakografi jenis satu ini sangat marak dan heboh sekali perkembangannya.
Kakografi begitu menarik perhatian saya karena banyak teman-teman saya yang sesuka hatinya saat menulis suatu artikel atau makalah. Berikut beberapa kesalahan yang kerap saya temukan:
1. Awal kalimat tidak selalu besar; seharusnya awal kalimat adalah diawali dengan huruf capital.
2. Tidak membubuhkan titik pada penutup kalimat, seharusnya harus ditutup dengan titik.
3. Penempatan spasi yang salah setelah tanda baca (titik, koma, titik dua, garis miring, dan sebagainya). Seharusnya setelah tanda baca harus diberi satu spasi sebalum menulis kata dan/ atau kalimat berikutnya.
4. Tulisan besar kecil sEpErTi iNi. Sangat menyalahi aturan kebahasaan dan gramatikal bahasa Indonesia. Sebenarnya membacanya pun juga membuat pusing dan sakit mata.
5. Tidak selalu menulis nama orang, kota, kampus dengan diawali huruf kapital. Seharusnya menggunakan huruf kapital.
Lima kesalahan itu yang sering saya temui. Dan salah satu cara untuk mensosialisasikan penggunaan bahasa dengan baik dan benar adalah menggunakan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pepatah mengatakan ‘alah bisa karena biasa’. Jadi, kita nggak mau kalah dengan orang Australia yang juga mempelajari bahsa Indonesia bukan? Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikan bahsa dan sastra Indonesia, siapa lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s