another place to share

Hak Tinggi; Antara Cinta dan Luka

Sepintas lalu, sewaktu dalam perjalanan pulang dari tempat kerja, pikiran saya terbang kemana-mana, sambil ngelamun gak jelas pastinya. Sedang enak-enaknya ngelamun, kaki saya ‘kedegling’ (red. Bahasa Jawa dari kesandung) karena tidak tidak fokus merhatiin jalan. Memang waktu itu sedikit gerimis ditambah hak tujuh centi yang saya pakai cukup puas membuat saya berjingkat-jingkat ria. Jadilah saya yang berjalan dengan sedikit terburu-buru kesrimpet sandal sendiri. Untungnya tidak sampai terjatuh. Dan kejadian kesrimpet sandal sendiri adalah hal yang cukup sering saya alami begitu juga para perempuan lainnya.

Nah, yang menggelitik bagi saya adalah betapa kukuhnya cinta saya pada sandal hak yang hampir (cukup sering) membuat saya jatuh. Saya (juga perempuan-perampuan lainnya) masih saja suka memakai sandal dan/ atau sepatu berhak tinggi. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki sandal-sandal tinggi itu, saya harus punya, setidaknya satu saja. Dan bagi saya, itu adalah harga mati.

Well, saya merasa percaya diri dengan hak tinggi karena tentu saja tinggi tubuh bertambah, lebih proporsional, dan ada keeksklusivitasan dari si hak tinggi dalam melengkapi busana yang saya kenakan. Tentu saja si hak tinggi masih menduduki rangking tiga dalam alas kaki favorit saya. Kelebihan si hak versi saya cukup itu saja. Keburukannya? Mulai dari pharises hingga berdampak buruk bagi tulang belakang, saya tahu dan sadar betul.
Then, you know what? Dengan bahaya dan keburukan yang diakibatkan si hak tinggi itu, saya masih juga memakainya. Bahkan hak tinggi seperti keharusan dalam event-event tertentu. Tentu saja lebih diminimalisir dan diimbangi juga dengan olahraga. Yang jelas harus ada jeda untuk melepaskan kaki dari si hak tinggi untuk beberapa menit. Refleksi singkat lah, hehehee. Hak tinggi benar-benar mendapat tempat istimewa bagi para perempuan. Meski sakit dan memberikan luka, tapi apa daya saya dah terlanjur kepincut sama si hak tinggi. Dilemanyaaa… (Lebai).
FYI: Sekarang sudah banyak hak tinggi yang nyaman lho, but beware!! Senyaman-nyamannya, hak tinggi apalagi yang lebai tingginya tetap merugikan kita para wanita.. 🙂

INTERMEZO: Yang menarik lagi buat saya, si hak tinggi tak ubahnya senjata beracun yang digunakan koruptor. Sudah sadar bahwa korupsi akan membunuh dirinya sendiri, tetap saja dilakukan, harta menggiurkan secara instan terlalu menyilaukan mata dan hati. Harta tak halal lagi. Paraaaahhh. 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s