Secangkir kopi dan Air Mata

sumber: flickr

Beberapa menit yang hening dan sayu…,

Semua dari kita duduk berderet-deret serupa pagar bambu yang kian rapuh oleh hujan dan panas. Tak lagi beraturan dan mulai doyong ke arah yang tak dapat tertebak. Pikiran kita pun berlarian begitu jauhnya dari hal yang sedang dibahas. Lebih tepatnya sangat panas dan begitu memukul. Lagi-lagi kita dimarahi. Begitulah yang kutangkap.

Semua sudah kita kerjakan, tapi memang belum sesuai dengan harapan. Kata-kata yang ia ucapkan sore itu begitu memukulku dan (mungkin) kita. Sesaat setelah kecewanya terlontar dan anggapan kurang positif yang kuterima, sesak itu mencekat hatiku. Membungkam bibirku yang mendadak sama sekali tak bisa berucap apa pun. Dan sepi menyelimuti diri ini, juga kita. Intinya…, marahnya sontak seperti meneriakiku dan mengumpatku. Ya, lagi-lagi begitulah yang kutangkap.

Beberapa menit setelah itu…,
Rapat selesai dan bubar jalanlah semua dari kita. Mencari tempat ternyaman untuk kembali melakukan rutinitas. Dan aku (sama seperti kita lainnya) memilih meja warna cokelat muda beraksen klasik dengan seonggok computer dan keybord di atasnya. Memilah dan kembali memilih mana yang harus kusimpan dan segera instropeksi, juga hal yang harus segera dibuang. Tepatnya rasa sesak dan diam yang membungkam. Itulah yang harus segera dienyahkan.
Entahlah, kenapa sesak itu tumbuhkan sentimental yang begitu tinggi. Sudut mata ini tak sanggup membendung mutiara air mata. Ia jatuh begitu saja. merembes di pipi. Tangis ini berderai tak tertahan. Oooh, begitu dahsyatnya rapat sore ini. Sampai-sampai aku yang cukup kuat (menurutku) begitu mudah muntahkan tangis. Dan kuingat kembali kata-kata Mike Ditka:

“Before you can win, you have to believe you are worthy.”


Lalu….,
Pada secangkir kopi dan tetesan mutiara itulah kulampiaskan semua sesak barusan. Alhamdulillah, lega. Begitulah cara tangisan meredakan duka. Saat sesak dan sedih bergelayut tiba-tiba, menangislah segera. Biar lega muncul setelahnya. Lalu kembali tersenyum dengan penuh lega dan bahagia.

“The greatest glory in living lies not in never falling, but in rising every time we fall.” (Nelson Mandella)

So, don’t blame your self for every fault! Never give up! Keep fighting n learning! SPIRIT! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s