Meludah pun Ada Aturannya

Saat menulis ini, sebenarnya saya sedang dihadapkan pada kecemasan yang serba tanggung. Cemas yang dikuasai dilema karena keputusan yang harus diambil serba tanggung. Mengapa tanggung? Begini lho, hari ini seperti biasa adalah jadwalnya kliwonan IKAMAKSUTA JAKARTA RAYA, dan sebagai slah seorang anggota yang baik, sebisa mungkin saya harus senantiasa berpartisipasi dalam agenda yang diadakan. Namun lagi-lagi berbenturan dengan masalah waktu. Nah, waktulah yang menjadi tokoh tanggung dalam kecemasan saya.

Waktu berkumpul dengan sesama alumni lalu membahas dan berkomunikasi seputar nasib masa depan dan sebangsanya, pastilah membutuhkan waktu yang cukup lama (menurut saya), dan untuk undur diri di tengah-tengah acara rasanya sangat jauh dari mungkin. Maka saya putuskan untuk absen hadir dalam kliwonan kali ini. Waktu setengah jam yang saya miliki untuk turut hadir rasanya terlalu sedikit dan tanggung.  Tapiiiii………,

Melewatkan kesempatan berkumpul bersama rekan-rekan apalagi mayoritas sesame perantauan itu adalah seperti membuang uang di tengah jalan saat tahu ada orang yang akan memberi uang. Bingung kan? Uang itu sama-sama penting dan hanya orang bodoh yang akan membuang-buang uang di jalanan. Orang kaya pun tak akan mau melakukan itu. So, dilemma saya menggelisahkan bukan?

Well, itu hanya cerita saja, sebenarnya cerita tadi tak ada hubungannya dengan apa yang akan saya ceritakan.

Begini lho kawan, kemarin siang saya izin pulang saat jam istirahat (gak izin ding, asal nyelonong aja) karena ada perlu sebentar. Jarang-jarang deh bisa berjalan menuju kontrakan saat jalanan masih begitu jelas dan terang. Dan karena terangnya itu, dengan begitu jelas dan terang pula saya dapati sesuatu yang kurang enak di pandang mata. Kau tahu apa itu? Itu adalah deretan hasil ludahan manusia.

Gambaran yang biasa di Indonesia, melihat orang meludah di sembarang tempat. Dan itu sangat mengganggu bagi saya. Sangat tidak indah sekali, dan membuat jalanan terlihat begitu kumuh, kotor, dan ya……, just mention what you want to mention. Dan yang paling penting adalah bisa sebagai sumber penyakit apalagi kalau sedang terserang flu, batuk, dll. Sebagai sesama pengguna jalan, tentu merasa rishi dan tak nyaman. Mbok iyao, tidak di tengah jalan atau tengah-tengah trotoar yang notabene merupakan tempatnya para pedestrian. Kalau boleh memberi saran, sebaiknya saat terpaksa harus meludah di jalan raya, meludahlah di tempat yang sangat kecil sekali kemungkinan dilihat orang. Misalnya selokan, pangkal pohon atau pot? Pokoknya sebisa mungkin menghindar dari kemungkinan ditemui oleh mata-mata manusia.

Saya pun juga pernah mengalami sangat harus meludah saat itu juga, tapi mencari tempat terbaik adalah menjauh dari fasilitas umum yang kerap digunakan banyak orang. Dengan begitu kan tidak saling merugikan. Dan sebagai sesama pengguna jalan, kita sudah bisa saling bertoleransi juga turut menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan bukan.

So.., ada saran atau masukankah untuk meminimalisir meludah di sembarang tempat?

Advertisements

One thought on “Meludah pun Ada Aturannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s