another place to share

Halo World, Here I am (again)

Selamat pagi. Selamat menyambut kuntum-kuntum selasa yang semoga merekah dan indah. Selamat berjumpa dengan kehidupan yang tiada pernah bosan memberi kejutan dan petualangan yaaaa.
Well heiii, rasanya lamaaaaaaaaaaa sekali ya nggak ngublek-ublek rumah kedua saya ini. Rumah laba-laba juga sudah makin terpampang nyata lho keberadaannya. It’s almost three months I write for nothing. Bisa terbayang bukan ketidakproduktifan yang pada akhirnya digantikan oleh sawang (rumah laba-laba) yang merajalela dan malah makin produktif. Setelah diri saya cukup disibukkan dengan sederet aktivitas pribadi dan keluarga, sudah saatnya kembali menyapa ramah dan hangatnya dunia. Betapa amat disayangkan sekali bukan membiarkan semesta dalam diam. Sementara banyaaaaak sekali hal yang bisa saya ceritakan juga bagikan. Beberapa peristiwa luar biasa dan sakral yang saya harapkan terjadi hanya sekali seumur hidup akan saya share. Some ethnic ceremonies and items happened. And you-must-know-this. Tapi nanti ya disharenya.
Kali ini ada pengalaman dan hal aneh yang bikin nyengir bin melongo sambil bergumam “kok bisa?” tentang Ujian Nasional. Ya pasti Ujian Nasional saya. Bisa dibilang sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya agak sedikit suka tanya saat di kelas. Yah, lumayan vokal gitu. Terutama di pelajaran Bahasa Indonesia, tapi pelajaran yang lain juga lho meski kadarnya lain. Saking jatuh cintanya sama pelajaran ini, setiap ujian mengarang selalu minta kertas lebih. Rasanya ada saja yang pengin dituangkan lebih dalam lembar ujian. Walhasil, nilai-nilai saya agak lumayan dan alhamdulillah nggak pernah keluar dari kurungan tiga besar. Begitupun seterusnya hingga ke jenjang berikutnya. Kecuali sewaktu SMA yaaa, hihhihi. Walaupun belum pernah masuk lingkup 3 besar, alhamdulillah kapasitas paham dan tanya di kelas saya masih on.
Mana yang aneh? Biasa aja sih. Well well well, keanehan itu terjadi saat UN saudara-saudara. Nilai UN saya tidak serapi dan semanis nilai harian dan raport. Hampir selalu begitu. Lhoh, hariannya kan bagus, tanya terus, pr juga oke, latihanpun sip kok. Bagaimana bisa? Mungkin ini adalah salah satu alasan saya menolak UN dihapuskan. Setiap kali mau UN, kondisi badan kurang fit yang berakibat tidak konsen saat belajar dan mengerjakan soal. Ya, begitulah saya. Tapi alasan terkuat saya adalah, apakah masih bisa dibenarkan ukuran kepandaian dan kelayakan siswa menyandang predikat pandai hanya dari tes tiga hari saja. Sementara banyak sekali fakta bahwa apa yang terjadi saat UN tidak mencerminkan siswa/i yang pandai dan jujur. Dan bukankah akan lebih bijak menilai mereka dari rekap perjalanan studi dan prestasi selama bertahun-tahun mereka menempuh studi. Karena itulah mereka yang sebenarnya. Saya rasa, UN tak lagi efektif. Begitulah. Demikian share super singkat pagi ini. Tabungan uneg-uneg saja. Monggo berkomentar, saya akan senang sekali.
Sugeng enjing, selamat beraktifitas, selamat menjalani legit manisnya hari Anda. Semoga menyenangkan dan berlimpah berkah bahagia. Bye then…. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s