another place to share

It’s Thursday, be Sweet

1335888089_p1110037

source: Google

Mimpi apa saya semalam dipertemukan dengan kamis. Ah, tidak. Mau mimpi apapun, kamis akan selalu datang setelah rabu malam -tepat tengah malam- dan sebelum jum’at -pun tepat tengah malam-. Tepat saat itu juga pukul 24.00 -harus- dibaca 00.00. Terserah pilih yang mana, bagi saya keduanya sama saja.
Saya menyukai kamis, yang selalu saya identikkan dengan manis dan optimis. Kamis manis, kamis optimis. Tak jarang kata-kata manis juga optimis saya sertakan dalam wajah pembuka atau penutup setiap mengirimkan surel di hari kamis.
“Selamat beraktifitas di kamis manis yang bertabur optimis. Have a great day.”
“Apa kabar bu? Semoga kamis makin manis dengan penandatanganan MoU bersama kita ya.”
“Siang mbak S, apa kabar? Kamisnya ayu dan cerah sekali ya. Siap beraktifitas dengan pekerjaan yang manis. Semoga ya.”
Dan sederet kata yang manis-manis yang berujung dengan emoticon manis. Dengan berbagi kata-kata manis lewat sapaan sederhana pun sudah memaniskan hari. Atau berbagi senyum dengan sesama pemakai lift yang entah siapa mereka. Pekerjaan setumpuk sepertinya lumer disiram air es keramahan orang. Manis bukan? Bahagia bukan?
Di kehidupan ini banyak sekali hal-hal kecil yang memiliki arti luar biasa manisnya. Menyimpan makna. Membuat bahagia. Namun nyatanya tidak semua orang mampu merasakan manis dan bahagianya kehidupan. Bukan karena apa yang dipunyai atau dijalani, tapi karena ketidakmampuan untuk membuat “bahagia” selalu ada. Hingga beberapa bulan lalu pertanyaan tentang arti bahagia muncul.
“Bahagia itu apa sih?”
Saya jawab, “saat tenang dan damai berkumpul memenuhi hati dan pikiran” (definisi saya sendiri). Kembali lagi pada hakikat bahagia. Setiap orang memiliki kadar dan patokan kebahagiaannya sendiri-sendiri. Maka cara memperoleh tenang dan damai pun akan beragam. Lagi-lagi titik kenyamanan hidup setiap orang tidaklah sama. Saya bisa betah berjam-jam membaca novel Charles Dickens atau bercengkerama dengan buku-buku Robert T. Kiyosaki. Tapi belum tentu akan nyaman dihadapkan dengan beraneka macam game yang bagi adik saya sangat luaaaar biasa. Tak akan sama cara untuk menempuh sisi bahagia.
Belakangan makin banyak buku-buku dan tips seputar ‘how to be happy’. Mungkin juga di google makin banyak pencarian dengan deretan huruf b-a-h-a-g-i-a. Wah wah wah, bahagia sedang naik daun dan dicari-cari. Tak heran bila berita milyarder dan pengusaha bunuh diri makin sering mengisi daftar berita hangat di media. Terbukti bahwa bahagia tidak hanya sekedar kaya harta saja, tapi jauh lebih dalam dari itu semua. Bahagia ada di dalam hati.

Semakin mahal saja nilai bahagia. Ah, kenapa harus mencari bahagia kalau kita bisa menciptakan bahagia itu sendiri. Bahagia sumbernya dari diri sendiri. Jadi, pertanyaan untuk diri sendiri adalah ” sudah bahagiakah saya?”
Salam bahagia. kamis manis, kamis optimis. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s