another place to share

Aneka Wajah Pendidikan Negeriku

source: twicsy.com

source: twicsy.com

Ada yang mengganggu ketenangan tidur saya semalam. Pada akhirnya jadwal tidurpun molor berkepanjangan hingga hampir pukul 02.00. Aura HarDikNas (Hari Pendidikan Nasional) yang selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei memang sudah membahana rata dalam pikiran saya sejak kemarin. Dan entah kebetulan atau apa, malamnya saya dipertemukan (lagi) dengan fakta bahwa di antara jutaan orang putus sekolah karena faktor biaya, masih ada orang-orang yang memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah karena merasa bahwa dengan pendidikannya yang ia miliki sekarang ia sudah mampu berpenghasilan di atas rata-rata dan tak perlu untuk sekolah lagi. Wow sekali ya. Kemampuan finansial belum tentu memberikan kemampuan untuk berpikir lebih terbuka terhadap pentingnya pendidikan. Wajah pendidikan Indonesia kini adalah kok ya masih lesu seperti ini.

Beberapa kesimpulan sementara saya akan pendapat orang tentang pendidikan adalah:
1. Sebagian orang berpikir bahwa pendidikan itu tidak kenal siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana. Pendidikan untuk siapa saja.
2. Sebagian lagi berpikir bahwa pendidikan itu ya untuk ijazah. Kalau dapat ijazah kan bisa kerja.
3. Sebagian lagi berpikir bahwa pendidikan hanya momok saja, menghabiskan duit. Toh kalaupun sekolah tinggi-tinggi tapi nggak bisa kerja juga sama saja kan.
4. Sebagian berpikir, pendidikan itu seperti menggapai langit. Ingin bisa kesana tapi terlampau tak mungkin.

Kesadaran orang untuk sekolah memang semakin tinggi, tapi tujuan utama mereka dari sekolah itulah yang saya nilai belum pada tempatnya. Memang bukanlah dosa besar jika seseorang ingin sekolah tinggi demi agar mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang tinggi pula. Bukankah ini manusiawi? Memang benar, manusia itu makhluk konsumtif yang tingkat kekonsumtifannya kian tinggi seiring bertambahnya tahun. Tapi apakah dengan begitu ada kepuasan dan rasa bahagia dari bekerja? Dari sekolah yang dijalani selama bertahun-tahun? Tentuuu, sekarang bisa menikmati gaji tinggi dengan fasilitas yang luar biasa juga. Bisa beli apa saja yang diingini dan disuka. Tentu, bahagia.
Well hei, lalu esensi hidup itu untuk apa? Bahagia versimu itu seperti apa? Apakah sebatas bisa kerja mapan dan berpenghasilan tinggi? Apakah bahagia itu ketika bisa hang out bersama teman saat after hours dan maen bersama? Sementara separo lebih dari jumlah keseluruhan bangsa ini putus sekolah. Oh, zona hidup dan bahagia yang entah bagaimana menyebutnya?

Ketika Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantoro dengan usaha dan perjuangan menantang mati, terasa sekali bahwa untuk mendapatkan pendidikan saja sulitnya bukan main. Padahal Taman Siswa gratis waktu itu dengan keterbatasan pendidik dan sarana. Berbanding terbalik dengan sekarang, akses pendidikan yang jauh lebih mudah dan murah, justru tak terlalu ditaruh dalam semangat menggebu. Entah berapa persen yang betul-betul sekolah demi ilmu. Agar bangsa ini tak lagi terlena dalam jajahan hedonisme dan dunia yang mengejar eksistensi. Sekaya-kayanya dan semiskin-miskinnya, mereka tetap sama di mata pendidikan. Sama-sama punya hak untuk berilmu dan pintar.

source: twicsy.com

source: twicsy.com

Patrap Triloka yang menjadi pedoman dan pilar pendidikan Indonesia nampaknya kian usang. Belum terlambat untuk memoles kembali Patrap Triloka dan menjadikannya bagian penting untuk pijakan kemajuan pendidikan bangsa. Bahwa pendidikan adalah bagian kehidupan, tanpa partisi apapun.

“Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani”.

Kembalilah murni, wahai pendidikan Indonesiaku. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s