(Opti)Mistis Kebangkitan

Jalan-jalan di perkotaan itu mulus-mulus. Berbeda dengan jalan-jalan di daerah yang nyaris menyerupai cekungan-cekungan hantaman asteroid. Dalam dan menggalaukan. Jumlahnyapun banyak. Bisa dibilang kegalauan yang ditimbulkan tak juga sampai pada titik move on. Galau itu berkelanjutan karena nasib jalan-jalan makin parah dan terus ciptakan rekor kedalaman cekungan. Tanpa sedikitpun obat pelipur lara perbaikan. Swadaya inisiatif pengguna jalan dan warga setempat terkendala oleh biaya. Dan tambal sulam yang mampu dilakukan tak cukup banyak memberikan perbaikan. Tetaplah jalan-jalan berlubang. Belakangan nampaknya jalan-jalan itu sibuk membuat lubang-lubang baru. Apakah tak ada anggaran perbaikan? Oo, tentu saja ada, APBD daerah-daerah di Indonesia ini seharusnya tinggi. Lantas kemana saja dana itu? Entahlah, nampaknya dana yang benar adanya itu sengaja dijadikan tokoh fiktif belaka.
Berbanding terbalik dengan jalanan kota, terlebih ibukota. Jalanan baru terkelupas secuil saja, sudah ribut disana sini mempermasalahkan kapan akan dilakukan perbaikan. Segera. Tanpa jeda dan tunda. Tergantung siapa yang lewat jalan itu. Biasanya memang mobil-mobil berpoles licin tanpa gores yang berjalan di atas aspal super mulus nomor satu. Bukan truk-truk raksasa penuh debu yang memang tugasnya memindahkan batu-batu dari pegunungan. Sedangkan batu-batu itu bukan untuk kita, Indonesia. Tapi untuk asing yang mengatasnamakan penanam modal sebagai sumber devisa negara. Ternyata eksistensi kesenjangan masih belum bergeser ke arah pemerataan pembangunan.

68 tahun (yang katanya) merdeka, Indonesia masih tertatih bahkan dalam pembangunan infrastruktur pokok bagi rakyat. 105 tahun (yang katanya) usia kebangkitan nasional, Indonesia masih belum bangkit dalam arti yang sebenarnya. Nyatanya kematangan usia tidak menjamin kedewasaan suatu bangsa. Mengutip kata-kata bung Karno:
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” –Bung Karno.
Sekarang bisa dilihat realita perjuangan setelah kemerdekaan itu sulitnya melebihi perjuangan kemerdekaan. Karena kini tak ada kesamaan visi misi seperti saat dulu rakyat bersatu padu mengusir penjajah, merebut dan menyatukan kembali Nusantara dengan nyawa sebagai taruhannya. Yang ada sekarang hanya saling berebut kuasa dan tahta demi nama besar dan uang. Karena kini begitu banyak kepentingan atas nama individu dan golongan. Hingga melupakan kepentingan bangsa. Karena kini perjuangan itu melawan bangsa sendiri, saudara sendiri (baca: koruptor, bandar dan pengedar narkoba, preman yang membabi buta, dsb). Bahkan makin terang-terangan dan titilknya rata. Ironis dan belum juga habis. Tapi kali ini saya ingin memaksakan habis. Selesai.

Tidak. Nyatanya tidak mungkin begitu saja selesai. Kecuali premanisme atas bangsa dan Indonesia segera dilenyapkan dan diganti dengan bahu membahunya bangsa dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa pamrih, tanpa dalih, tanpa pollitisasi. Semua bersih. Yang jadi pertanyaan saya kemudian adalah: kapan? Saya merasa Indonesia masih menyimpan optimistis meski hanya berupa titik. Deretan titik-titik yang digabungkan akan menjadi garis panjang, bukan? Kebangkitan kecil yang dimulai oleh setiap orang, akan menjadi kebangkitan besar oleh banyak orang, bukan? Semua perubahan menuju kepositifan bermula dari diri sendiri. Dari kita.

Intinya, optimistis akan kebangkitan Indonesia ada meskipun sekarang ini masih nampak mistis di mata saya.
Bangkit Bangsaku, bangkit Indonesiaku! Merdeka!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s