another place to share

Puisi Tragis

Menyulam jerit malam-malam suram. Semakin kelam, semakin buram. Sepintas nampak jelas terlihat antusias yang bias. Serupa tampias yang tak meninggalkan bekas. Sesungguhnya malam tetaplah malam. Gelap dan kelam.

Saat kau urai tangis, terkadang hidup terasa lebih manis. Tentu, pahit memang berkarakter bengis, membiarkan hidup mengais manis. Selalu memaksa bertaruh demi kebahagiaan. Tapi enggan menyerahkan lembar-lembar kenangan keindahan. Hanya suguhan kepedihan, ter-eja dalam nampan kehidupan. Diam di balik gelap malam.

Ciputat, 25 Mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s