another place to share

Mengokohkan Kembali Rumpun ASEAN #10daysforASEAN

Dalam waktu sepuluh hari ini, nampaknya saya akan diajak berkeliling negara-negara ASEAN melalui tulisan oleh ASEAN Blogger dan US Mission to ASEAN. Well, sejauh ini cukup membuat deg-degan, tema yang ditawarkan menggiurkan kepala dan mengharuskan untuk membaca dan menyelam lebih jauh hingga ketemu pemahaman akan negara-negara ASEAN. Berbicara soal ASEAN itu kayanya ga ada habis-habisnya ya. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan sejarah masing-masing negara dan situs-situsnya. Alamaaak, tak cukup waktu seharian. Tempo hari perjalanan keliling ASEAN saya dimulai dari Thailand, negeri gajah putih yang tersohor dengan Thai Massagenya. Hari kedua ini saya diajak melancong ke negeri Kamboja, lebih tepatnya untuk melihat-lihat candi Angkor Wat yang tersohor hingga seantero dunia bahkan sempat menggeser posisi Borobudur dari 7 kejaiban dunia. Duuh, makin penasaran deh saya jadinya, apa ya kehebatan candi yang bahkan telah menjadi sister temple-nya candi Borobudur ini?

Belajar sejarah Hindu Budha lagi yuk!

Dunia tak memicingkan mata bahwa Borobudur sudah berdiri kokoh 3 abad (abad 7-8 M) sebelum Angkor Wat dibuat oleh raja Suryvarman II pada abad ke 12 M. Sejarah telah mencatat bahwa kemegahan Borobudur kala itu terkenal hingga ke penjuru Kamboja, Myanmar, bahkan hingga India. Tak heran bila kerajaan Khmer di Kamboja pun tertarik untuk belajar ke Borobudur. Singkat cerita hingga dibangunlah candi Angkor Wat di Siem Riep. Maka bukan hal mustahil bila ada kemiripan relief antara kedua candi tersebut. Kemiripan pengaruh Hindu-Budha nampak dari ornamen bangunan Angkor Wat. Kedua candi ini sama-sama megah, sama-sama berbicara : “hei, tengoklah, akulah bukti sejarah kejayaan masa lampau”. Berdasarkan hasil blog walking dan googling kesana kemari, perbedaan yang nampak terletak pada bangunannya. Borobudur terlihat lebih megah dan kokoh karena berdiri di atas bukit dengan 505 stupa Buddha.

Sedangkan Angkor Wat lebih luas kompleks area candinya dibandingkan candinya sendiri yang hanya memiliki 5 candi utama dan berada di dataran rendah. Yang unik dari Angkor Wat adalah ketuaannya yang tetap terjaga, berbeda dengan Borobudur yang nampak seperti baru karena telah mengalami renovasi beberapa tahun yang lalu. Apapun itu, saya menyimpulkan bahwa antara negara-negara ASEAN ini masih memiliki hubungan rumpun. Saudara.

Yang menggelitik di benak saya selanjutnya adalah masihkah ada sisa-sisa keserumpunan negara-negara ASEAN yang bisa memperkuat ASEAN Community 2015 nanti?

Secara kultur, negara ASEAN itu serumpun. Seperti saudara yang dipisahkan rumah dan cara perawatannya. Keadaan sosial masyarakatnyapun juga tak jauh berbeda. Satu hal yang tak bisa dibuang dari ASEAN adalah senyumnya yang khas, walaupun jika diperhatikan lebih seksama, senyum Indonesia tetap yang paling melengkung (baca: orisinil, tanpa penyedap). Selain itu, situs-situs peninggalan sejarah bertaburan di sana. Salah duanya adalah Borobudur dan Angkor Wat. Bolehlah sekali lagi kita berteriak bangga dan gembira. Modal kita mengintegrasikan ASEAN melalui pilar sosial budaya yang one vision, one identity, one community sudah cukup besar. Namun besar saja tidak cukup kalau tidak diimbangi dengan kesadaran tinggi dan konsistensi. Yang terjadi sekarang adalah keserumpunan di ASEAN sudah berada di zona abu-abu. Hanya samar-samar tercermin (bahkan cenderung tak ada) dalam kehidupan bernegara meski sebenarnya jelas bahwa ASEAN sebenarnya masih serumpun.

Integrasi yang konstruktif

Bayangkan apa jadinya bila saudara kandung dipisahrumahkan, dibatasi interaksinya, dididik dan dibesarkan dengan tata cara yang berbeda. Walaupun mempunyai kemiripan, tetaplah perbedaan itu ada. Seperti itulah state boundaries yang berlaku, ibarat benteng besar yang pelan-pelan bisa menguraikan keserumpunan. Perlu dicatat bahwa setiap negara memiliki kepentingan dan visi serta misi demi majunya negara masing-masing, bukan demi ASEAN. Disinilah titik ularnya. Untuk menghadapi ASEAN Community 2015, integrasi antar negara-negara ASEAN harusnya berorientasi pada kemajuan ASEAN. Majunya ASEAN pasti berhulu dari majunya setiap negara anggotanya. Maju yang positif ya, bukan maju yang merugikan negara lain terlebih saudara sendiri.

Nah, terus gimana caranya dong?

Kebijakan luar negeri yang agresif dan efektif
Kerjasama bilateral maupun multilateral bukan ajang untuk mencari keuntungan sepihak melainkan harus dijadikan wadah berdiskusi dan bernegosiasi untuk kemajuan bersama. Yang sudah-sudah, kebanyakan kebijakan luar negeri masih menyimpan kepentingan pribadi (baca: masing-masing negara). Contohnya sangat jelas terpampang nyata. Penandatanganan MoU sister temple province antara Siem Riep dan pemprov Jawa Tengah tahun 2011 silam seperti hanya jadi isapan jempol semata katika tiba-tiba Borobudur digeser posisinya oleh Angkor Wat sebagai bagian dari 7 keajaiban dunia. Padahal jelas, Borobudur jauh lebih dulu ada bahkan sebagai kiblat percontohan dibangunnya Angkor Wat. Menurut saya seharusnya negara-negara ASEAN saling mendukung satu sama lain dalam hal yang berkaitan dengan kebijakan luar negeri. Greget untuk kemajuan bersama dari setiap kerjasama dan kebijakan harus real dan konsisten. Lebih agresif. Bayangkan bila negara-negara ASEAN saling mendukung satu sama lain dalam pelestarian budaya, menyokong kecirikhasan negara lain di mata dunia, mengakui kekayaan warisan budaya yang dimiliki negara ASEAN lain. Karena memang seperti itulah orang ASEAN sebenarnya, ramah dan santun dalam bernegara. Inilah simbol one vision, one identity, one community.

source: thediplomat.com

source: thediplomat.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s