Let’s Finish ASEAN Territorial Disputes #10daysforASEAN

Masih segar di ingatan saya ketika pulau terluar bagian utara Indonesia yaitu pulau Ambalat yang diklaim Malaysia sebagai bagian dari negaranya tahun 2012 silam akhirnya benar-benar dimiliki negeri Jiran tersebut. Jujur sangat kecewa dan sedih campur pengin marah sama diri sendiri, sama Indonesia yang (menurut saya) semakin lemah dan tidak tegas dalam hal yang berkaitan dengan kebijkan luar negeri. Sampai sekarang masih gak rela sambil berusaha untuk rela. Sejak tahun 1967, konflik klaim mengklaim pulau (yang seringnya melibatkan Malaysia) termasuk di dalamnya konflik batas perairan memang sudah terjadi di wilayah ASEAN. Dan sampai sekarangpun konflik tentang pulau serta batas negara belum menemukan kejelasan yang pasti dan benar-benar diakui oleh masing-masing negara (termasuk rakyat yang menerima dan menghormati dengan sepenuh hati) yang berkonflik. Well, inilah salah satu permasalahan yang harus dituntaskan ASEAN Community 2015 yang terbangun atas (salah satunya) pilar ASEAN Political-Security Community (APSC). Konsep ini bertujuan untuk meningkatkan kerjasama politik dan keamanan antar negara anggota ASEAN Community 2015.

Nah, di hari minggu yang cerah ini, di hari ketujuh dari tantangan #10daysforASEAN, ASEAN Blogger dan US Mission to ASEAN menantang para peserta lomba blog untuk menganalisa tentang konflik sengketa pulau yang terjadi di ASEAN. Sebagai role modelnya (alamaaak) yaitu sengketa pulau Pedra Branca atau yang dikenal juga dengan pulau Batu Puteh antara Singapura dan Malaysia. Masih seputar relevansinya menyongsong ASEAN Community 2015. Bagaimana? Maknyus sekali bukan tema hari ketujuh kita. Langsung deh yuk, kita coba urai benang merah atas krisis keakraban dan kesepahaman dalam hal kepemilikan pulau Pedra Branca (termasuk Batuan Tengah dan Karang Selatan) antara Singapura dan Malaysia. Plus juga mencari penyelesaiannya terkait ASEAN Community 2015. Mariiii..  

Sebelumnya, kita kenalan dulu dengan konflik “sengketa Pedra Branca” versi Wikipedia yuuuk:

“Sengketa Pedra Branca adalah persengketaan wilayah antara Singapura dan Malaysia terhadap pulau yang terletak di pintu masuk Selat Singapura sebelah timur. Terdapat tiga pulau yang dipersengketakan, yaitu Pedra Branca (disebut Pulau Batu Puteh oleh Malaysia), Batuan Tengah dan Karang Selatan. Persengketaan dimulai pada tahun 1979 dan sebagian besar sudah diselesaikan oleh Mahkamah Internasional tahun 2008. Pedra Branca diserahkan pada Singapura berdasarkan pertimbangan effectivity dan gugus terumbu karang batuan tengah (dalam kenyataan adalah pantai utara dari pulau Bintan dalam wilayah Republik Indonesia) diserahkan pada Malaysia.”

source: www.en.m.wikipedia.org
source: http://www.en.m.wikipedia.org

Setelah 29 tahun, Mahkamah Internasional yang bermarkas di Den Haag akhirnya memutuskan kepemilikan pulau Pedra Branca aka Batu Puteh sebagai bagian dari negara Singapura. Secara resmi, kedua negara bisa menerimanya terbukti dengan ditandatanganinya kesepakatan tersebut pada 23 Mei 2008. Namun berlaku lain bila konflik tersebut dibawa ke ranah public,melibatkan rakyat langsung. Ya, kurang lebih sama seperti apa yang saya rasakan ketika Ambalat lepas dari Indonesia menyusul pulau Sipadan dan Ligitan. Ketidakteriman rakyat atas keputusan Mahkamah Internasional pasti ada dan berpotensi menimbulkan konflik lebih mendalam antar kedua negara, terutama person to person conflict. Disinilah konflik yang sesungguhnya, yang sangat mampu menyentil rakyat untuk beropini dan bersikap mengikuti apa yang diyakininya benar dan berakibat pada ketersinggungan yang bersifat masif. Pada akhirnya akan merembet pada persoalan nasionalisme. Bila tidak diselesaikan secara menyeluruh, konflik yang sudah dianggap selesai tersebut makin kompleks bukan? Inilah persoalan kenegaraan, rakyat akan selalu terlibat di dalamnya.

Win-win solution

Setiap negara pasti memiliki kepentingan nasional, visi dan misi negara yang terencana. Untuk mencapai itu semua, adakalanya suatu negara mengabaikan kepentingan negara lain. Kasus dari Sengketa Pedra Branca seharusnya bisa dijadikan studi kasus untuk mengambil kebijakan-kebijakan diplomatik yang berbasis kerakyatan. Pemerintah sebagai penyambung aspirasi rakyat sekaligus yang bertanggung jawab atas kedaulatan suatu negara, harus sadar bahwa tidak semua kalangan rakyat mengerti dan memahami arti dari tanda tangan dan perjanjian hitam di atas putih. Maka, sosialisasi dan komunikasi yang efektif adalah tindak lanjut berikutnya. Cara meminimalisir melebarnya konflik versi saya seperti ini:

  • Memperkuat kekuatan pemahaman internal suatu negara bahwa negara berdaulat selalu menghormati dan menghargai kedaulatan negara lain. Termasuk batas negara dan territorial yang sudah disepakati bersama. Agar tidak terjadi lagi saling klaim yang hanya menimbulan konflik.
  • Kalau bahasa kerennya engagement strategic, biasa disebut kemitraan strategis. Bukankah ini juga merupakan salah satu kunci terjalinnya hubungan yang baik antar negara?
  • Masing-masing negara harus siap dan berbesar hati menerima apapun solusi yang tidak memberatkan sebelah pihak.
  • Penyelesaian konflik antar negara perlu dibina dan dilaksanakan secara terus menerus dan berkelanjutan. Hubungan bilateral yang melibatkan rakyat secara langsung bisa menjadi salah satu upaya untuk memperkecil potensi meluasnya konflik dan ketaksepahaman.
  • Mari diamdil nilai positifnya, jadikan konflik sebagai cara untuk mengkrabkan agar terjaga kemesraan hubungan antar negara. Kunci untuk menyongsong ASEAN Communiy 2015.

Komponen negara harus berperan aktif dalam upaya penyelesaian konflik. Jadi ya nggak keren aja menurut saya kalau saling klaim yang berujung pada konflik terus dipelihara. Ingat motto ASEAN, “One Vision, One Identity, One Community”.

Hi ASEAN countries, we are family. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s