another place to share

Image

Sandiwara Freedom of Speech

Freedom of Speech. Apa yang terpikir di benakmu saat isu tersebut merebak ke permukaan?
Lagi-lagi masalah klasik yang masih (hampir selalu) segar. Kebebasan berekspresi, berpendapat, bersuara dan mendapatkan informasi tanpa border apapun (seharusnya) adalah hak asasi. Jadi, menyongsong ASEAN Community 2015, hal tersebut mutlak dimiliki oleh setiap individu dalam zona ASEAN demi terciptanya konektivitas yang terarah dan jelas. Tapi hal ini masih menjadi kendala utama, permisaaaaah! Memang benar sekarang tahun 2013, tapi nyatanya masih ada negara yang membatasi kebebasan berekspresi dan juga informasi dengan berbagai alasan terutama sebagai upaya preventif atas protes terbuka terhadap pemerintah yang masif. Yang saya lihat demikian.

Lalu bagaimana dengan Filipina?
Dahulu, Filipina sangat melarang keras kebebasan berekspresi, berpendapat, beropini, berbicara, apalagi yang berkaitan dengan pemerintahan. Tak jauh berbeda dengan Indonesia pada masa rezim Orde Baru. Tapi kini, Filipina merupakan salah satu negara ASEAN yang menjamin kebebasan berekspresi dan informasi bagi warganya. Namun keadaan menjadi lain ketika pemerintah Filipina membuat “Undang-undang Preventif Cybercrime” pada 12 September 2012. Tujuan dari UU Preventif Cybercrime adalah:
– Menangani aksi pornografi di dunia maya terutama melindungi kegiatan eksploitasi anak di bawah umur.
– Meredam pencurian identitas dan kegiatan spamming.
– Untuk menindak pencemaran nama baik dan kata-kata yang dianggap menyerang seseorang di dunia maya dan akan diganjar 12 tahun penjara/ denda.
Secara tersurat, tujuan dibentuknya UU ini nampak apik dan baik ya. Namun ada kepentingan besar yang kokoh berdiri di balik UU Preventif Cybercrime ini. Tidakkah mengerikan jika salah berbicara di media sosial bisa dipenjara 12 tahun penjara atau denda. Lagi dan lagi mengenai kebebasan berekspresi dan berpendapat. Ada upaya pembatasan dalam mengemukakan pendapat. Jadi ya, adalah sesuatu yang nyaris tak mungkin untuk menjadi seorang citizen journalism. UU preventif cybercrime tak ubahnya pengintai yang tersebar dimana-mana. Namun pemerintah tetap berdalih bahwa tak ada kebebasan yang mutlak. Tak heran bila protes keras beberapa kalangan dan komunitas yang tidak setuju dengan UU ini tumbuh dan terus berkembang di hampir seluruh Filipina. Bahkan, tindak protes terparah pun dialami langsung oleh situs-situs pemerintah yang berhasil dikacaukan oleh protester. Waaah, kalau sampai merusak situs pemerintah kayanya jauh dari kepantasan ya. Tak perlulah sampai rusak merusak terlebih fasilitas negara.

Berita terhangat yang masih fresh from the oven adalah tentang meninggalnya wartawan di Filipina. Bukan hal baru bila wartawan sangat susah bergerak dan berekspresi dengan leluasa di Filipina. Sejak tahun 1986, kasus pembunuhan dan penculikan wartawan sudah menjadi masalah internal yang dikecam oleh dunia internasional. Dan sekali lagi, terjadi lagi, ketakjelasan pengusutan perkara. Ya, kembali lagi masalah klasik yang berjaya di tengah modernitas. Aduuuuh, kenapa ya suka sekali melestarikan hal-hal klasik yang hanya menguntungkan segelintir orang namun amat sangat merugikan banyak orang. Bahkan mencederai hak asasi manusia.

Kebebasan berekspresi dan informasi yang ada di Filipina seolah hanya tameng dan topeng pemerintah saja. Pada kenyataannya, keadaan tidak jauh berbeda dengan ketika kebebasan itu belum diberikan sepenuhnya. Lalu bagaimana dengan ASEAN Community 2015?
Filipina tidak bisa terus berlaku otoriter atas rakyat. Pembungkaman suara dan pendapat serta pembatasan informasi akan sangat menghambat proses komunikasi dalam ASEAN Community 2015 yang dituntut serba cepat dan up to date. Bila keadaan seperti ini terus berlangsung, Filipina akan tertinggal dan people to people interaction tidak akan terwujud. Karena dalam internal negara pun masih ada border. Perlu di-bold dan di-underline bahwa pemerintah dan rakyat adalah bagian dari kedaulatan sebuah negara. Keduanya harus saling berpegangan dan jalan beriringan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s