Mempertajam Taji Perekonomian Indonesia Melalui APEC CEO Summit 2013

source: www.stikerserbu.blogspot.com
source: http://www.stikerserbu.blogspot.com

Indonesia kini

Mari berbicara realita. Sampai hari ini, Indonesia yang kita kenal adalah Indonesia dengan ketergantungan akan konsumsi produk dan merek dari luar negeri yang begitu tinggi. Saking tingginya sampai-sampai membunuh kepercayaan diri pengusaha lokal untuk membuat produk dan merek atas nama Indonesia. Sampai-sampai memudarkan ketidakbangaan sebagai orang Indonesia untuk memakai dan memiliki produk dan merek buatan negeri sendiri. Sampai-sampai membentuk kebiasaan meniru dan memplagiasi merek dan produk orang lain sebagaimana kian merebaknya poduk-produk yang disebut KW yang merupakan tiruan dari produk aslinya yang notabene adalah produk asing. Satu lagi kesalah-kaprahan terjadi, moral plagiasi dibiarkan menjadi penggerak uang dalam negeri. Belum lagi gempuran produk China yang seperti gelombang tsunami masuk ke pasar Indonesi sejak dicetuskannya ACFTA 2010 silam. Dengan pertumbuhan makro yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat yaitu 6,5% (tertinggi selama 15 tahun terakhir) sekaligus sebagai negara yang terbebas dari krisis finansial global pada tahun 2008, menjadikan Indonesia dipenuhi oleh kalangan menengah keatas yang konsumtif, obsesif, dan tak tahan gengsi. Namun keberadaan Usaha Mikro,Kecil, dan  Menengah (UMKM) masih dipandang sebelah mata. Akibatnya adalah kesenjangan sosial yang makin hari makin memupuk jumlah orang kaya sekaligus makin menambah angka kemiskinan di Indonesia.

Produk dan merek, dua hal yang berbeda namun saling berpegangan. Selanjutnya muncul tanda tanya mengapa antusias terhadap produk dan merek lokal tidak seheboh antusias terhadap produk dan merek luar yang begitu diminati, dicari, dan terus dinanti-nanti? Padahal produk dan merek lokal pun sangat mampu bersaing dengan produk luar.

Mari mencermati dengan teliti dan hati, produk dan merek luar dengan produk dan merek lokal. Boleh ya saya mengambil salah satu produk luar yang sangat bergengsi dengan harga super fantastis, sebut saja produk H, yang bagi beberapa kalangan dianggap sesuatu yang sangat berharga yang harus dimiliki walau berapapaun harganya. Lantas apa yang menarik dari produk tersebut? Pasti merek dan kualitas. Merek tersebut sudah mendunia dengan kualitas yang juga berada di rangking top dunia.  Yang kedua adalah pengemasan yang begitu menarik, cantik, dan mampu membuat produk tersebut menjadi merek yang berkelas di dunia.  Bila keadaan sudah demikian, maka produsen pun akan sangat leluasa mematok harga berapapun. Bagaimana dengan produk local kita? Mari kita lihat produk tas Cibaduyut atau tas Tajur milik Indonesia. Dari segi kualitas, saya dan Indonesia pasti mengakui akan kualitasnya yang bagus, mampu bersaing. Lantas mengapa pertumbuhan marketnya terkesan melempem.  Ada kelemahan sehingga membuat produk dan merek tas ini tidak semelejit produk dan merek luar. Patokan melejit bagi saya cukup sederhana, banyak ditemukan produk asli-palsunya (aspal) di mana-mana. Bukan merupakan jaminan utama, namun realita di market adalah jawaban yang jujur. Packaging produk kita yang biasa saja pada akhirnya membut konsumen juga menaruh perhatian yang biasa saja. Mungkin untuk meminimalkan biaya produksi, tapi bagaimana bila dengan mengemasnya semenarik mungkin akan mendatangan laba yang jauh lebih besar? Percaya diri dan  justru menantang kegagalan tanpa terlau berfous memikirkan kerugian akan membuat jejak rekam perjalanan usaha lebih matang. Anda tahu jawabannya.

APECABAC, dan Entrepreneur Muda

source: www.asiaincforum.com
source: http://www.asiaincforum.com

APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) CEO Summit 2013 akan digelar 5-7 Oktober 2013 di Bali. Ajang pertemuan para petinggi negara se-Asia Pasifik bersama para Ekonom, jurnalis, mahasiswa dan undangan membahas masa depan perekonomian se-Asia Pasifik bekerjasama dengan ABAC (APEC Business Advisory Council) yang merupakan dewan penasehat yang mewakili sektor bisnis kawasan Asia Pasifik, berperan mengidentifikasi permasalahan dan memberikan rekomendasi pada kepala pemerintahan anggota-anggota APEC guna mencapai kebijakan yang lebih efektif dan kerjasama ekonomi yang lebih erat. ABAC Member ditunjuk secara langsung oleh kepala pemerintahan 21 ekonomi APEC. Dalam APEC CEO Summit 2013 ini mengangkat tema Towards Resilience and Growth Reshaping Priorities for Global Economy dengan prioritas utama pembahasan adalah:

  •  Attaining the Bogor Goals
  • Achieving Sustainable Growth with Equity
  • Promoting Connectivity

Dalam APEC CEO Summit 2013, hal penting di atas segala hal yang paling penting adalah memikirkan bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk belajar dan memperluas koneksi agar lebih bisa bertaji dalam persaingan ekonomi se-Asia Pacific. Sadar atau tidak, globalisasi memaksa kita untuk bisa terus inovatif, kreatif, dan mampu memanfaatkan peluang agar bisa bersaing. Atau, kita akan tertinggal dan terpuruk di antara 21 negara anggota APECMari kita buktikan bahwa dinamis dan keberagaman di Indonesia adalah kekayaan yang betul-betul bisa membuat Indonesia kaya. So, what  we can do as a young generations for the better economic condition in Indonesia?

1.  Memulai menjatuhkan hati pada merek dan produk dalam negeri.

Indonesia ini amat kaya, Indonesia ini dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Sebagai bangsa yang cerdas, kita harus bisa mengolah dan memanfaatkan setiap elemen yang terpapar di daratan dan lautan Nusantara. Di tengah persaingan pasar bebas dunia dan kian memanasnya perekonomian dunia, Indonesia seharusnya masih berada pada level aman karena kita mempunyai bahan baku. Tinggal bagaimana menyinergikan kreativitas dengan baik lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi. Mulai bangkitnya UMKM Indonesia merupakan signal positif untuk terus memperkuat merek dan produk local. Mari kita tengok kemilau mutiara Indonesia yang bernilai mahal, batik Indonesia dengan beragam corak dan motif serta jenisnya. Beberapa nama yang berhasil menjejakkan kaki di pentas dunia atas nama Indoneia pun kian banya, sebut saja Dian Pelangi dengan rancangan batik jumputannya yang mendapat apresiasi hangat dunia. Memulai menjadi mandiri, tidak manja kepada pemerintah. Pemerintah memiliki fungsi sebagai pemapah dan penuntun bagaimana seharusnya UMKM bisa berjalan dengan baik. Saya rasa sudah zamannya untuk membuang ketergantungan diri kepada pemerintah.

2.  Memperlebar peluang diri sebagai entrepreneur. As young as possible.

Mengutip kata-kata dari pendiri Young on Top, Billy Boen, “kalau bisa sukses muda, kenapa nggak?” . Dan terbukti bahwa sukses di usia muda bukanlah hal mustahil. Nama-nama yang saya sebutkan di atas adalah segelintir contoh dari pemuda bangsa yang mampu menunjukkan taringnya di usia yang masih belia dengan tetap mempertahankan identitas bangsa, Indonesia.

3.  Menjadi entrepeneur yang tak hanya menawarkan merek dan produk inovatif dan  unik tapi juga membuka network seluas-luasnya dengan dunia luar.

Apa yang membuat merek dan produk yang kita produksi bakalan dilirik orang? Lalu bagaimana agar pelanggan tetap bertahan dengan merek dan produk kita tanpa pernah menengok merek dan produk lain? Bagaimana membuat pelanggan loyal? Hal-hal seperti inilah yang harus mulai dipikirkan. Bahkan perlu ada campur tangan pemerintah, terutama kementerian perindustrian dan perdagangan, kementerian koperasi dan UMKM, dan kementerian-kementerian terkait yang harus memfasilitasi untuk mencapai tujuan tersebut.Perlu digarasbawahi juga untuk tidak menutup diri akan informasi dan komunikasi dengan siapapun namun tetap harus cerdas dalam memfilter informasi dan koneksi. Konektivitas adalah mutlak di era gobalisasi sekarang ini. bayangkan bagaimana entrepreneur akan memperluas jaringan dan pelanggan tanpa bantuan infomasi dan komunikasi yang baik. Fungsi internet sangat berperan penting dalam membantu entrepreneur.

4.  Memperluas peran perempuan dalam upaya memajukan perekonomian Indonesia

Peran perempuan untuk turut serta memajukan ekonomi Indonesia harus diperkuat, dimulai dari hal sederhana sebagai istri sekaligus ibu dengan yang membantu memperkuat perekonomian keluarga, memberikan pendidikan yang terbaik untuk putra putri bangsa, menjaga kesehatan keluarga dengan baik dan maksimal. Sebagai perempuan, saya sangat bangga plus berterima kasih kepada ABAC yang tidak melupakan peran perempuan dalam pertumbuhan perekonomian global. APEC Women and the Economy Forum bersama APEC Small Medium Enterprises Working Group (SMEWG) yang merupakan rangkaian acara dari APEC CEO Summit 2013 ini mengangkat tema “Women as Economic Drivers”. Ke depan, perempuan harus lebih didorong dan didukung serta tidak dianggap sebelah mata.

Mari kita lakukan, dengan penuh kesadaran dan konsistensi. Bila gagal, mari mencoba lagi dan terus mencoba. Keep trying, keep moving forward. See you real soon, youth entrepreneurs!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s