another place to share

Gemah Ripah Loh Jinawi

24 September 2013.
Jujur saya baru tahu ternyata tanggal hampir pungkasan dari bulan September ini diperingati sebagai hari Tani Nasional. Ada juga yang menyebutnya Hari Agraria, tentu saja kementerian Pertanahan yang menyebutnya begitu. Sebagai bagian dari negara Indonesia yang terang-terang kaya lahan (negara lho yang kaya lahan) namun belum semuanya dimaksimalkan untuk pertanian, plus lagi iklim sub tropis yang mendukung untuk bercocok tanam, saya merasa seperti orang yang tidak bisa bersyukur. Apakah Anda berpikiran sama seperti saya?

Gemah Ripah Loh Jinawi
Pasti sudah pernah mendengar kalimat “Gemah Ripah Loh Jinawi” kan? Dalam pidato-pidato atau kampanye-kampanye alam (bahkan belakangan politik juga) deretan empat kata ini mendadak menjadi aksen yang begitu manis dan memantik rasa bangga sebagai bangsa yang tinggal di Indonesia. Tapi, benar-benar tahukah kita apa artinya?

Menurut kamusbesar.com, gemah ripah loh jinawi berati tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya.

Dahulu sangat sesuai dengan Indonesia, ketika Indonesia mengalami surplus beras dan berhasil menjadi negara dengan ketahanan pangan yang mampu mengekspor hasil bumi ke luar negeri. Ingat ya, mengekspor! Harga pangan murah, rakyat pun tidak kelaparan, tidak putus asa dan menyerahkan hidup dalam kepasrahan seperti yang terjadi saat ini. Memang benar, sekarangpun Indonesia tetap surplus beras, bedanya, import seperti sudah menjadi agenda mutlak pemerintah di tengah keluberan beras di Indonesia. Mari berbicara fakta. Liputan6.com menyebutkan bahwa setiap tahun Indonesia mengalami surplus beras hingga 7 ton banyaknya. Hampir mendekati target 10 ton dari rencana surplus beras pemerintah (bagiannya deptan ya). Yang menggelitik kemudian adalah beras masih saja diimport. Lalu buat apa? Jelas-jelas import akan sangat menurunkan harga beras petani lokal. Pengaruhnya adalah harga jual petani rendah sedang harga beli kebutuhan lain makin melangit. Sudah trennya Indonesia kan, kalau salah satu saja ada harga naik, pasti akan berimbas ke harga-harga yang lain juga. Jadi dimanakah gemah ripah loh jinawi itu sekarang? Keprihatinan atas nama petani belum memuai.

Lahan dan petani terlantar, import pangan dielu-elukan
Coba deh kita melek pangan. Sudah. Maksudnya, coba deh kita benar-benar berpikir logis tentang kebutuhan pangan yang sebenarnya bisa kita penuhi sendiri tanpa harus import sana sini. Melihat kekayaan alam dan manusia kita, tak ada alasan untuk kita tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Bagaimana bisa?
Pertama, serius memperhatikan petani dan segala aspeknya. Petani memang sudah ahli dalam bercocok tanam, tapi ada keahlian-keahlian yang petani juga masih perlu dibimbing oleh pemerintah. Misalnya: cuaca adalah musuh nomor satu dalam pertanian, tapi kita juga pasti tahu bahwa rekayasa cuaca bisa dilakukan. Nah, giliranĀ  pemerintah untuk membantu. Penyuluhan pertanian perlu digeber secara masif seluruh Indonesia. Pupuk, bibit unggul, dan semuanya. All in one package.
Kedua, stop deh import-import yang nggak perlu. Artinya, segala hal yang mungkin untuk diproduksi sendiri, ya cukuplah dimaksimalkan lagi produksi. Import hanya berlaku untuk sesuatu yang kita tidak mampu produksi. Bagaimana? Fair, bukan?
Ketiga, cukupkan pembebasan lahan hanya untuk pembangunan yang kurang penting. Pembebasan lahan yang berarti adalah jika digunakan untuk kepentingan orang banyak, kepentingan umum. Misalkan, sekolah, rumah sakit negara, perpustakaan umum, dll. Kepentingan umum dalam arti yang sebenarnya ya.
Keempat, bisa kan setiap orang belajar untuk menjadi petani? I mean, bercocok tanam di pot. Selain mengurangi gersangnya pemandangan, bertanam/ berkebun bisa dijadikan sebagai ajang untuk memaksimalkan diri.
Kelima, ini yang tak kalah penting. Membeli hasil bumi lokal ya, yang lokalpun tak kalah kualitas dan enaknya sama yang interlokal. Bukti bahwa kita menghargai jerih payah petani lokal.

Indonesia ini kan tidak lagi buta pengetahuan. Menjadikan petani-petani kita lebih berdaya dan cerdas sudah seharusnya dilakukan, bukan lagi sekedar wacana atau ramai saat musim kampanye pemilihan wakil rakyat saja. Demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s