another place to share

#31 Weeks: Prosedur Terbang bagi Ibu Hamil

Kalau ada award untuk kemalasan ngeblog, mungkin sayalah juaranya. Sebulan lebih belum ngeblog, pemirsaaah. Alasan utamanya memang malas. Hamil tua cenderung membuat saya malas ngeblog. Oh no, mager sudah menjalari otak saya. Jangan ditiru ya!
Sebenarnya ini adalah hutang tulisan sejak 8 Oktober kemarin. Betapa deg-degannya saya menghadapi penerbangan di usia kehamilan yang sudah memasuki 31 minggu, trimester ketiga. Yup, usia hampir maksimum yang bisa ditolerir oleh maskapai untuk mengizinkan calon passangernya terbang. Peraturannya 32 minggu, namun ada juga yang kurang dari 32 minggu bahkan ada juga yang lebih dari 32 minggu masih diperbolehkan terbang. Secara general, batas maksimalnya usia 27-32 minggu ya. Dan paling aman adalah saat kandungan masuk trimester kedua. Ini bukan patokan mutlak ya, karena kondisi ibu hamil tidak sama. Better ask our Obgyn or Midwife for safety flight yaaa. Kalau saya kemarin yakin masih kuat karena merasa tidak ada masalah dengan kehamilan, hanya tensi yang agak naik (130/80) itupun alhamdulillah bisa diturunkan dengan asupan buah dan sayur. Dan juga waktu tempuh perjalanan yang hanya 1 jam, maka saya dengan mantap meyakinkan diri bisa dapat izin terbang. Boleh terbang ya tentu saja harus memenuhi persyaratan yang diajukan oleh maskapai. Lalu apa saja to persyaratannya? Ini dia:

1. Surat Izin Terbang dari Obgyn
Yang satu ini mutlak harus ada. Berapapun usia kehamilannya, lebih baik selalu siapkan surat izin terbang dari Obgyn masing-masing ya, mamil-mamil semua. Yang paling tahu kondisi kehamilan kita tentu saja dokter kan. Bila dokter mengizinkan, tentu kita akan merasa lebih tenang dan tak perlu khawatir. Terus jangan lupa difoto copy yaa. Yang asli diserahkan ke petugas di bandara, yang satu buat kenang-kenangan (halaaaah). It’s good for baby’s scrapbook, right? ;). Tunggu dulu, untuk mendapatkan surat izin terbang dari dokterpun termasuk yang gampang-gampang susah. Asal sehat, tekanan darah normal, masih dalam usia kehamilan yang boleh terbang (kurang dari sama dengan 120/80), dokter akan dengan senang hati memberikan surat berharga tersebut. Mudah, kan.

2. Periksa Kesehatan di klinik bandara
Sebelumnya, tidak semua maskapai demikian, namun tidak mulai sekarang. Kata petugas bandara, peraturan tentang pemeriksaan oleh petugas kesehatan bandara berlaku per Oktober 2013. Jadi, harus kudu mesti melewati tahap ini. Hanya diperiksa posisi bayinya oleh bidan (petugas kesehatan bandara) dan juga tekanan darah. Nanti akan dapat surat pengantar untuk bisa lolos memasuki boarding gate. Ada biaya administrasinya, 50 ribu rupiah. Oia, beberapa maskapai ada yang membutuhkan materai juga, jadi siap sedia selalu materai di dompet ya atau membayar 10 ribu untuk materai senilai 6 ribu.

3. Surat keterangan
Ini surat keterangan atas nama kita sendiri tapi dibuat dan diisi oleh petugas berdasarkan informasi data diri kita.

4. Santai dan slow sajaaaaa
Yang keempat tentu saja syarat mutlak. Yang saya khawatirkan adalah ketika turbulensi dan take off + landing. Ketiganya bikin perut mulas, deg-degan dan keringat dingin memikirkan si baby. Karena si baby mulai nggak bisa anteng sesaat setelah take off dan menjelang landing. Maka lemas dan keringat dinginlah saya. Alhamdulillah baby bisa tenang dan anteng habis dibacain ayat kursi berulang-ulang sambil dielus dan dibujuk untuk tenang.

Demikian saja share super singkat saya yaaaa. Tetap tenang dan nyaman bepergian meski tengah hamil ya, maaaak. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s