Agar Hujan Tak (lagi) Merepotkan

source: www.physicsworld.com
source: http://www.physicsworld.com

Akhirnyaaaa, bisa mejeng juga di bawah gagahnya matahari. Ceritanya dua hari lalu, dua hari berturut-turut yaa, seharian penuh langit nggak ada biru-birunya sama sekali. Putih cenderung hitam. Tentu saja selama dua hari kemarin ditemani hujan. Dan berakibat pada rutinitas saya berjemur matahari harus dihentikan. Dan akibat-akibat lain dari hujan yang sudah kerap datang cukup banyak. Inilah pekerjaan rumah yang harus disiasati. Dicari solusinya. Kalau saya dan orang rumah, sudah mulai berbenah untuk beradaptasi dengan cuaca yang tak menentu ini:
(1) Waktu pertama kali hujan datang beberapa minggu lalu, keadaan rumah heboh bin kacau balau. Dapur nyaris tak bisa diselamatkan dari bocor yang seperti air bah. Saking derasnya hujan dengan angin yang cukup membuat deg-degan plus pertama kalinya datang (banyak kotoran di atap dan talang rumah), biasanya memang akan terjadi insiden bocor di sana sini. Nah, disini jugalah bisa dilihat titik-titik rawan bocor dan rembes. Jadi, besoknya bisa segera dibenahi sebelum didahului hujan. Harus beware juga dengan cuaca ekstrim, desa tetangga sempat terkena puting beliung. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa meski keadaan cukup berantakan karena beberapa pohon besar tumbang dan atap-atap rumah ada yang terbawa angin.

(2) Pasti gak jauh-jauh dengan urusan pakaian aka jemuran. Biasanya yang paling pusing adalah ibu-ibu rumah tangga terutama yang punya anak kecil terlebih bayi. Bisa saja memanfaatkan pengering mesin cuci, tapi bila jumlah anggota keluarga banyak, maka pengeluaran untuk listrik akan membengkak drastis. Musim hujan bukan hanya sehari dua hari, masih panjang hingga tahun depan. Tapi eh tapi, rasanya gak tega juga ya kalau lihat jemuran sampai berderet-deret dan berhari-hari belum juga kering. Untuk yang satu ini kami sepakat untuk berlaku hemat dalam berpakaian (aduh, maksudnya bagaimana ini?). Maksudnya ya tidak terlalu sering ganti baju jika dirasa bajunya masih sangat layak dipakai dan tidak menimbulkan gangguan bagi orang-orang di sekitar. Alasannya karena produktivitas keringat tidak seluar biasa sewaktu musim kemarau, malah cenderung sulit bertemu keringat setetespun (lebay dikit deh). Misalnya begini, syal yang baru dipakai jangan langsung masuk keranjang baju kotor. Jika dirasa masih bersih, angin-anginkan saja dengan cara digantung lalu bisa digunakan kembali lain waktu (biasanya kalau perempuan akan menyesuaikan dengan busana). Jaket juga sweater ataupun cardigan pun juga bisa diberlakukan sama dalam berhemat pakaian. Ingat rambu-rambu dalam berhemat pakaian: tidak semua pakaian bisa dikategorikan “hemat pakaian” ya. Kebersihan selalu yang utama. You know what I mean. 😀

(3) Tanaman. Bagi kami cukup dilematis. Positifnya adalah tak perlu lagi repot-repot menyirami tanaman pagi dan sore hari. Negatifnya, tanaman sayur mayur banyak yang rusak karena tidak sesuai dengan kadar air hujan yang berlebih. Tempo hari terpaksa merelakan kembang kol yang merekahnya menggoda iman untuk makanan ayam. Sebelum sempat dipetik karena masih ada kembang kol di kulkas, ternyata ulat sayur lebih cepat beraksi. Jadilah si putih berubah warna menjadi semu kecoklatan dan aromanya sangat tidak kembang kol sekali. Seperti telur busuk. Ternyata oh ternyata, banyak sekali ulat di dalamnya. Solusinya adalah tanaman sayur yang tidak bersahabat dengan hujan akan diberhentikan secara sepihak alias tidak ditanam dahulu.

(4) Sedia obat-obatan dan minuman hangat. Sudah jadi tradisi di keluarga saya selalu ada tea time baik pagi sebelum beraktifitas juga sore atau malam hari. Nah, karena sedang musim hujan, ngetehnya kami jadi lebih nikmat. Pas dengan cuaca dingin. Teh selalu jadi favorit, tapi sesekali ngejahe atau ngeronde jadi pilihan variasi kami. Untuk soal obat-obatan, memang kudu siap sedia ya. Mulai dari minyak gosok, obat flu, batuk dan pusing. Yang penting kudu pintar-pintar jaga kesehatan.

(5) Tak bisa setiap hari bercengkerama dengan matahari. Sebagai makmil dengan usia kandungan menginjak 37 minggu, jalan-jalan pagi sambil berjemur matahari memang olahraga yang paling top untuk saat ini. Namun sayang sekali, cuacanya sedang tidak mendukung kegiatan andalan saya. Untuk jalan-jalan masih oke laaah, bisa dilakukan di dalam rumah tapi untuk sinar matahari tidak bisa dibeli kan. Nah, sebagai penggantinya, asupan vitamin D dari matahari sementara waktu dialihkan ke makanan. Aaa, semoga nggak bertambah melar ini badan.

So far beberapa hal di atas yang sudah kami lakukan. Mencegah plus mengantisipasi lebih baik kan daripada terlambat atau tidak berbuat sama sekali. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s