another place to share

Sectio Secaria, Haruskah?

“Kehadirannya akan melengkapi hari-hari kami.”

ini baby S sudah usia dua bulanan...

ini baby S sudah usia dua bulanan…

Long time no see. Lama ya tidak berbagi kabar di rumah maya saya. Persiapan diri menjelang persalinan beberapa waktu lalu yang juga bebarengan dengan persiapan final reportnya ibunda tercinta serius menyita waktu (e do do e). Maklum, ibu belum sepenuhnya menguasai aplikasi office, jadilah saya didaulat untuk membantu edit ini dan itu. Rencana share post inipun sudah sejak hari kamis lalu, namun tetap ya tergeser hingga hari senin. Lagi-lagi harus bertemu si maklum, punya new baby born ternyata benar-benar membuat saya sibuk. Peran baru sebagai ibu sedang dalam tahap adaptasi waktu untuk saya bisa tetap menulis juga menjaga dan merawat si baby tanpa keteteran dan panik disana sini. 🙂

Okee, back to the point…
Ada cerita tentang pengalaman pertama saya menjalani secar. Benar, baby Syafiq kemarin lahir harus dengan secar. Lho, kok bisa? Begini ceritanya.

Masih dalam editing final reportnya ibu’, perut sayaa yang semakin membesar sudah masuk usia 38 minggu, sudah ready to birth sebenarnya meski hpl dokter masih 7 hari lagi. Duuuuh, sudah nggak sabar rasanya. Ketaksabaran saya bersambut respon (cenderung iya) dari baby. Saya mengeluarkan flek dan juga perut terkadang terasa tegang. Langsung deh menghadap ke bidan dekat rumah. Ternyata baby belum turun panggul padahal seharusnya sudah. Baiklah, lebih baik periksa ke Obgyn untuk jelasnya.

Singkat cerita pemeriksaan di Obgyn.

Ada tiga poin penting yang perlu digarisbawahi sekaligus dibold super tebal, yaitu:

(1) UK 38 minggu baby belum masuk panggul. Seharusnya baby sudah masuk panggul. Sudah ready to birth malahan. Karena usia baby matang untuk lahir adalah 37-40 minggu. Solusinya, bisa saja melahirkan secara normal namun baby harus dipacu aka dirangsang agar mau turun ke panggul. Dengan apa? Tentu saja dengan obat perangsang. Biasanya yang sering dilakukan para Obgyn adalah memasukkan obat pemacu tersebut via infus. Bagaimana rasanya? Rasanya luar biasa sakitnya (begitu kata para mom yang berpengalaman dipacu). Mungkin seperti saat suntik via infus. Pada kasus saya, kemungkinan keberhasilan dari dipacu adalah 30% bayi bisa turun ke panggul dan lahir normal.

(2) Tekanan darah mencapai 160/100. Wow sekali bukan. Dalam ilmu medis hal seperti ini disebut preeklamsia. Pasti para bunda sudah tak asing lagi dengan istilah ini. Dimana tekanan darah ibu melebihi angka 120/80. Mungkinkah lahir secara normal? Mungkin saja, tapi perlu diwaspadai bahwa preeklamsia beresiko kejang pada ibu dan keracunan bayi. Selain itu kesehatan ibu juga bayi tidak dapat dijamin akan kesehatannya postnatal nanti.

(3) Pengapuran. Pokoknya pengapuran aja kata dokter. Jadi ya, sudah tiga hari perut saya merasakan kontraksi yang rasanya mirip-mirip braxton hicks, durasinya masih sangat-sangat jauh sekali. Juga flek yang hanya sekali saja muncul.

Tiga alasan yang saya sebutkan tadi sudah lebih dari cukup untuk saya harus menjalani persalinan via sectio secaria. Begitulah kenapa baby Syafiq tidak bisa lahir secara normal namun harus melalui operasi secar. Semoga kelak kau jadi anak sholeh ya nak, pandai, cinta ilmu, care dengan sesama, berkah usia dan hidupmu sebagaimana harapan kami. Aamiin.

Welcome to the world, baby Syafiq.
Mom love you. :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s