Pemilu ‘Mereka’ Pemilu Kita Juga

Sudah lebih dari dua minggu lho Pemilu legislatif sudah lewat. Artinya, nyaris tiga minggu pula penghitungan suara belum juga terdengar hasilnya. Penghitungan suara riil keseluruhan TPS baik yang domisili dalam negeri maupun yang berada di luar negeri tak kunjung diumumkan KPU. Was-was campur penasaran. Walaupun dibela-belain kepoin media di sana sini, pun ngintip Lembaga Survei yang juga disana sini, saya jamin, belum akan bertemu yang namanya plong sampai saatnya diumumkan secara resmi oleh KPU. Sooo, mari menyabarkan hati sembari mensyukuri hasil quick count yang (mungkin tidak) membuat ayem hati. Hohoho, sampeyan ga puas dengan hasil quick count to? Sama, saya juga.

Sebenarnya saya termasuk salah satu dari entah berapa banyak warga yang cinta dengan hal-hal berbau pesta rakyat, Pemilu salah satunya. Namun tiga kali Pemilu belakangan (Pemilu Raya aka Pemilu lima tahunan ya) saya semakin merasa kehilangan sensasi pesta rakyat tersebut -mungkin ada yang sudah menyadari lebih awal, namun hati dan pikiran saya baru protes tiga kali Pemilu (abaikan). Dulu, sebelum saya mulai sadar tentang bagaimana sebenarnya (bukan seharusnya) Pemilu berjalan, saya sangat excited dan antusias tiada tara setiap jelang Pemilu hingga detik-detik pelantikan kabinet yang selalu ditutup dengan foto kabinet di depan istana negara. Lalu nggak sabar segera beli UUD 1945 cetakan teranyar lengkap dengan nama plus foto para menteri dan pejabat non-menteri kabinet setempat (baca: periode lima tahun ke depan). Ini penting ya karena akan keluar dalam soal isian mata pelajaran IPS kelas 3 SD. Gak jarang lho nama menteri dijadikan pertanyaan tabungan yang akan dikeluarkan saat guru kehabisan pertanyaan (based on self story ya, hehehe).

Well, back to Pemilu…
Baru saja baca info di website resmi KPU bahwa Rekapitulasi Nasional akan berlangsung selama sebelas hari, mulai 26 April sampai 6 Mei 2014. Semoga ga molor lagi ya, biar ga ada lagi sisa-sisa penasaran kami (welah, mengatasnamakan orang banyak). Semakin cepat akan semakin bagus. Bukankah sekarang peralatan sudah lebih canggih? Bukankah itu artinya hal-hal yang menghambat kelancaran proses Pemilu (all in keseluruhan Pemilu ya) bisa diminimalisir? Bukankah anggaran fantastis sudah diplotkan untuk kebutuhan Pemilu? Bukankah? Bukankah? Bukankah dan bukankah?

Kali ini, skeptisnya saya terhadap Pemilu cukup bisa saya posisikan di level terbawah di ruang kesadaran saya. Bahwa Indonesia (baca: rakyat Indonesia terutama calon pejabat) masih bisa berupaya untuk berbenah diri. Dan inilah angan-angan seorang saya yang juga merasa bagian dari Indonesia.

Seyogyanya Pemilu dijadikan sebagai ajang berebut kursi agar bisa lebih berdedikasi menggandeng tangan-tangan seluruh negeri untuk berbenah diri, bukannya memperkaya diri. Berbenah, the most crucial thing right now. Urgenitas Indonesia untuk memperbaiki koyak disana sini sudah tak bisa ditawar dan ditunda lagi. Dulu, kita kuat karena university in diversity sungguh-sungguh benar adanya. Bhinneka Tunggal Ika adalah ruh penyatu yang menggetarkan setiap teriakan “MERDEKA” yang (mirisnya) kini justru lebih seperti slogan tanpa jiwa. Ibarat perusahaan, masing-masing divisi ingin menonjolkan kelebihannya tanpa mau berkoordinasi dengan divisi terkait. Ya terancam hancurlah sudah. Coba saja calon-calon wakil rakyat saling berebut untuk memberikan andil terbaiknya untuk Indonesia. Waaah, makmurlah negeri ini. Top to the max pokoknya.

Bukankah baik, menjadikan Pemilu sebagai titik nol untuk memperbaiki campingnya negeri ini? Kita ini sadar sesadar-sadarnya bagaimana kondisi kita. Bahkan mungkin ketika berada di kondisi terburuk sekalipun. Bila setiap Pemilu adalah sebuah masa untuk regenerasi ke arah positif, semua dinolkan kembali (system yang tak baik saja, yang sudah baik ya diperbaiki agar semakin baik) dan bergerak dinamis dengan evaluasi secara berkala, bukankah laju pertumbuhan bisa lebih terkontrol? Saya yakin Indonesia bisa pulih.

Hei, dikira gampang ya ngurus 238 juta orang?!!
Begitulah top 3 alasan para pejabat tingkat nasional yang tak bertanggung jawab setiap kali dituntut dan diprotes warganya. Tahu kok tahu, gak mudah menyatukan 238 juta kepala dalam satu pandangan. Tapi menyamakan visi dan misi tentu bukan mustahil untuk dicapai kan, selama untuk kepentingan bersama. Kalau dulu kampanye saja mampu dan sangat bisa merangkul bahkan hingga berjabat dan berpelukan erat dengan warga, lantas apa bedanya dengan pasca terpilih sebagai wakil rakyat. Apa coba bedanya??! *ngomong sama angin*

Ya begitu kurang lebih angan-angan super singkat saya (modus, aslinya mah udah ngantuk). Angan-angan tingkat RT mungkin sejauh ini, hehehe. Apapun angan-angan itu, yang terbaik untuk Indonesiaku tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s