Yes I did. I Got Diarrhoea (again)

teh jahe fix

Kalau ditanya kapan begadang lagi, maka jawaban terfavorit saya adalah malam tadi. Alih-alih baca buku atau nulis, saya justru terkapar di tempat tidur sambil megang hp tentunya (kegiatan megang hp adalah hal wajib karena terbukti sesekali bisa mengalihkan rasa sakit). Dan ngeblog kali inipun juga didukung oleh badan lemas serta hp kesayangan. Oiya, disponsori juga oleh baby S yang pulas sekali tidurnya (I love you, boy). Kalau tidak, apa jadinya baby S, menginjak 5 bulan usianya, dia sudah mulai protes setiap kali diacuhkan aka didiamkan aka tak ada yang menemani bermain bercanda. Belum lagi kalau sedang haus (baby S masih ASI Eksklusif, dan no more stocks in the freezer). Terbayang kan bagaimana musti menyusui dengan kondisi saya tadi, rasanya kurang maksimal dan tidak memungkinkan. Lemes to the max.

Yes I did. I got diarrhoea (again).
Terakhir kali kena diare sewaktu usia baby S sekitar 3 bulan di perut saya. Dan waktu itu kondisi terparah diare sejauh ini karena diakumulasi juga dengan muntah mual. Kalau boleh memilih, lebih baik pingsan saja waktu itu. Dan, malam tadi perut melilit dahsyat aka diarrhoea datang lagi. Penyakit ini memang sudah akrab dengan saya sejak kecil. Padahal jenis makanan yang saya konsumsi masih tergolong aman dan tidak memicu kadar asam yang berlebih. BIG Alert: super penting untuk para ibu untuk memberikan ASI sebaaaaaik dan setepat waktu mungkin untuk buah hati Anda. Maksudnyeeee? Usahakanlah hanya ASI saja hingga usia 6 bulan, dilanjutkan tetap ASI plus MPASI hingga 2 tahun. Lho, memangnya kenapa? Karena begitulah rekomendasi dari WHO: “Exclusive breastfeeding is recommended up to six months of age with continued breastfeeding along with appropriate complementary foods up to two years of age or beyond.” Baca sini ya http://www.who.int/topics/breastfeeding/en/ . Masih ga yakin juga bahwa ASI saja sangat cukup untuk bayi hingga 6 bulan pertama usianya?!!

Begini, begini, begini. Dari bayi saya menolak ASI begitupun susu formula (ini cerita ibu saya ya karena saya nggak ingat dong). Jadi makanan saya ya air putih dan air tajin (kalau orang Solo, saat memasak nasi dengan cara diliwet, kelebihan air rebusan nasi inilah yang disebut air tajin). Ooooh, poor me. Kasihan, kasihan, kasihan. Hingga tingkat Sekolah Menengah pun saya masih geleng-geleng setiap kali disodorin segelas susu oleh orang tua saya. Pada akhirnya mau sih, tapi tetap bukan murni susu lagi karena sudah dicampur ina dan ini. Nanti saya ceritakan ya. Walhasil, saya harus menanggung akibatnya sekarang, diarrhoea salah satunya. Salah satunya? Adakah yang lain? Yesss!
– daya tahan tubuh lemah sekali
Sodara-sodara, sewaktu kecil, saya langganan sakit setiap bulannya. Panas, demam, batuk, pusing, dsb. Penyakit saya pun lebih banyak dibandingkan saudara sedarah lainnya. Dari empat bersaudara, saya yang paling banyak koleksi jenis penyakit dengan durasi yang paling sering pula. Berdasar diagnosa dokter, saya sudah kena infeksi saluran pencernaan. Yang artinya harus benar-benar bisa menjaga jenis makanan dan minuman yang masuk ke perut. So far, saya betul-betul (meski tak terlalu membatasi diri) memperhatikan makanan yang akan saya konsumsi. Selama kondisi tubuh fit, insya Allah semua makanan oke.
– ada yang difikirkan, ada yang dirasakan
Dulu itu saya akan sakit setiap ada yang agak berat sedikit di pikiran saya, e.g. hari ini ulangan dan belum belajar maksimal. Wah wah wah, bisa berabe lah saya. Maka jangan heran jika presensi dan absensi saya lumayanlah, almost reached level 70:30. Beruntungnya saya dulu, orang tua sangat ketat soal sekolah, pusing demampun saya (baca:kami, putra-putrinya) harus tetap masuk sekolah termasuk les dan ekstrakulikuler yang bukan menjadi keharusan, terlebih bagi siswa yang sakit. Jadi angka absensi bisa ditekan sedemikian rupa.
– mimisan
Kena panas, kecapekan, mimisanlah hasil akhirnya. Pernah dalam sehari saya mengalami tiga kali mimisan. Dan untuk anak berumur 5 tahun, rasanya too much yaaa. Yang ini sih ga terlalu yakin, apa iya efek ga ngASI bisa menyebabkan mimisan berkelanjutan? Kata dsa saya hidung saya infeksi, jadi amat sangat sensitif sekali.

Seiring berjalannya waktu, efek-efek itu kian berkurang dan terus berkurang hingga sekarang kecuali si diarrhoea. Yang membingungkan lagi, diare saya ini tak mudah ditebak gejala dan penyebabnya. Oh oh oh, dadakan dan ujug-ujug. Kuncinya ya itu tadi, badan kudu fit, maka insya Allah makanan pun tak akan menimbulkan efek samping. Dan diare pun bisa diminimalisir. FYI: obat penolong pertama saya adalah teh hangat nyaris pahit.

Jadiiiii, intinya satu ya, moms and dads, based on self experiences tadi, ASI itu sangaaat penting sekali untuk bayi hingga mereka dewasa nanti. Terus berikan ASI Eksklusif hingga 6 bulan pertamanya, dilanjutkan dengan ASI plus MPASI hingga dua tahun usianya. Go for ASIX! 🙂

P.S. Just wanna sharing… CMIIW 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s