another place to share

[RESEP] Sederet Tanggal Merah dan Blekothok (Bongko) Gude

gude3

Apakah tanggal merah (yang kebanyakan) di minggu ini sangat amat cukup efektif untuk memboost energi positif hingga luber? Tentuuuuuuu. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk lebih akrab dengan anggota keluarga. At least menghabiskan waktu bersama keluarga dan melakukan hal-hal biasa hingga yang tak biasa sudah cukup mampu lah buat mendiskon kerut-kerut wajah. Yang setuju dengan saya silahkan kayang. Hei hei, begitupun dengan saya dan keluarga. Di minggu yang nyaris dipenuhi warna merah ini we did a lot of great activities. Sebenarnya nggak ada yang hebooh atau terlalu wah banget dari kegiatan-kegiatan kami, tapi feelnya itu loh yang amazing banget (berlebihan).

Akhir pekan minggu lalu, si bontot sudah diizinkan pulang dari rumah sakit, dia harus dirawat karena gejala DB lebih kuat menguasai tubuhnya. Trombositnyapun sempat melantai dan menyentuh angka 40. Suhu tubuh juga melambung naik hingga 40˚C dan membuat punggungnya terasa sakit bin ngilu luar biasa. Jadilah malah dia minta rontgen pada mulanya (diagnosa pribadi itu cenderung tak benar, hihihi). Seneng doooong keluarga berkumpul, saudara jauhpun juga banyak yang datang ke rumah. Wah wah wah, tambah bungah. Bagi saya, momen kumpul keluarga seperti itu adalah kesempatan untuk (kembali) menghapalkan nama plus muka plus siapakah-dia-sebenarnya. Maklum, meskipun nenek-kakek kami hanya 5 bersaudara tapi anak cucu cicit cucu-cicitnya buanyaaaak. Cukup dimaklumi lah ya kalau hapalnya agak susah *sungkem dulu sama sesepuh.

Tanggal merah yang berderet di minggu ini juga momen untuk rehat setelah minggu lalu semuanya (kecuali saya dan baby Syafiq) harus bolak balik rumah sakit selama 5 hari. So, this holidays we only stay at home all day looong. Ga bosen tuh? Ngapaaaain ajaaaa?? Nggak ada yang berbeda dengan hari minggu biasanya, hanya saja waktu berkumpul kami lebih buanyak durasinya. Dengan durasi yang lebih itu pula banyak cerita dan obrolan yang bisa kami luangkan. Memang biasa saja, tapi rasanya yang berbeda.

Naaah, saya pun turut merasakan efek positif dari tanggal merah yang kebanyakan ini. Saya mempunyai waktu lebih untuk duduk manis di depan desktop dan kembali sibuk di dapur. Alhamdulillah baby Syafiq cukup anteng ikut eyangnya, dan eyang pun bisa melepas kangennya sampai pol-polan. See? Such a symbiosis mutualism, right? Oooh, I love being in the kitchen all day looong. Lumayan, kerut-kerut pada berkurang asal happy ya, buibuuu. 🙂

Kegilaan saya di dapur terbayar sudah. Beberapa hari yang lalu, setelah berpuluh-puluh tahun akhirnya saya bisa merasakan kembali rasa dari blekothok gude. Ada yang tahu? Adaaa? Kalau ada silahkan kayang lagi.
gude2Jadi, gude itu sejenis kacang-kacangan yang berwarna ungu kehitaman. Rasanya manis campur sepet kalau dimakan mentah gitu aja, but I think I do not recommend it yaaa. Secara kan kacang gude itu masuk kategorinya kacang olahan. Semacam kedelai gitu. Dimakan mentahpun tak masalah, rasanya manis campur sepet, teksturnya ga jauh berbeda dengan gude menurut saya [Hint: Manisnya manis versi saya lho yaaa]. Tapi ya tetap dianjurkan diolah dulu ya. Lebih cucok di lidah. Olahan kacang gude ini ada yang menyebutnya bongko. Kalau saya, bongko itu semacam pepes. Campuran kacang gude, kelapa parut dan bumbu lainnya dibungkus daun pisang terus dikukus. Hasilnya lebih kering karena kadar airnya hanya dari kacang gude saja.gude

Allright pemirsah, berikut resepnyaaah:

Bahan utama:
– Kacang gude (kurleb 5 cup), tumbuk kasar
– ½ butir kelapa setengah tua, parut ya
– 3 lembar daun salam
– air secukupnya

Bumbu, haluskan:
– 5 siung bawang putih
– 9 butir bawang merah
– dua ruas kencur
– garam secukupnya
– gula pasir secukupnya

How to cook:
– haluskan gude, masukkan bumbu halus dan campur hingga rata
– siapkan panci atau penggorengan, masukkan campuran gude, daun salam dan kelapa parut, aduk rata
– masukkan air sesuai selera. Kalau ingin teksturnya kering, cukup sedikit saja, kalau saya lebih suka semi basah, ada kuahnya tapi tak terlalu banyak
– didihkan, lalu koreksi rasa.
– kalau warnanya sudah lebih hitam pekat, artinya blekothok gude sudah matang.

Blekothok ini cocok dinikmati dengan nasi hangat plus tempe goreng dan sambal bawang. Ooooh, heaven.

Selamat menikmatiiiii, selamat merayakan kebersamaan bersama keluargaaaaa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s