another place to share

Kentutku Pahlawanku, Musuh Bagimu

*Tulisan ini mengandung anjuran yang boleh-boleh saja diamalkan namun tidak mengandung paksaan yang berlebihan. Demi menjaga ketabahan perut dari serangan angin yang tak mengenakkan, juga kemaslahatan hajat hidup sesama.

Ada hal yang sangat penting namun terkesan jorok dan menjijikkan. Catet yaaa, terkesan. Artinya sebenarnya iapun nggak ingin tercipta dan ditakdirkan dengan image jorok namun proses kehidupanlah yang menghendakinya begitu. Adalah dia si makhluk tak nampak oleh mata namun begitu peka bagi indera penciuman manusia, terkadang telingapun mengendus keberadaannya. Iyesssss, dialah si makhluk maya bernama kentut. Baiklah, kita blak-blakan saja menyoal kentut ini. Ingat: kentutpun tak pernah menghendaki untuk ditutup-tutupi walaupun kita tak jarang berlaku sebaliknya. Padahal ia pahlawan yang tak pernah minta dipuji lho.

Kentut adalah proses alamiah yang pasti dialami oleh setiap manusia. Kentut terjadi karena:

Gas di dalam perut yang akan keluar (hahahaaa, yaiyalaaaah). Ini, ini ni kata mbah Wikipedia:

Flatulensi adalah keluarnya gas melalui anus atau dubur akibat akumulasi gas di dalam perut (terutama dari usus besar atau kolon). Peristiwa keluarnya gas disebut juga kentut atau sering disebut juga buang angin. Kentut biasanya ditandai dengan rasa mulas di perut.

Perut begah berefek pada eneg berkepanjangan serta masuk angin, pernah mengalami kan? Bisa juga diikuti pusing serta tiada daya untuk sekedar berdiri apalagi jalan-jalan shoping di mall, pernah ngalamin juga kan? Terus makan salah minumpun salah, pernah ngalamin juga kan? Semua itu sangat tidak friendable (ga bersahabat gituuuu). Yep, nggak enak banget pokoknya. Nah, yang kemudian terjadi adalah oles-oles minyak angin and then duuuuuuuuuuuut. Apakah itu? That was our hero. Benuuuul, si kentut pahlawan yang tak pernah minta balas apa-apa. Bagaimana rasanya setelah kentut? Pasti sudah punya jawaban masing-masing.

Setuju kan kalau kentut itu nggak akan ada ruginya. Kalau begitu setuju juga kan menganggap kentut itu pahlawan. Yang setuju silakan kayang.

Oke, sudah selesai ya urusan intern dengan kentut. Naaaaaah, yang menjadi soal berikutnya adalah kentutku pahlawanku, musuh bagimu. Ah, yang ini mah semua pasti setuju sama saya. Kita sulit berdamai kalau untuk urusan yang ini. Agar tercipta ketertiban sesama pemilik kentut, berikut etika (sebut saja trik menyembunyikan) kentut:

1. Kentutlah pada tempatnya

Dimana? Toilet dong. Ini tempat paling menghormati keberadaan orang lain. Percaya deh. Daripada nahan-nahan kentut terus akhirnya masuk angin or keceplosan, buru atuh ke toilet.

2. What about “kebelet kentut”?

Coba trik ini: katupkan mulut, tekan, tahan perut or napas sekaligus bila perlu. Atau boleh juga silangkan kaki. Pada saat situasi seperti ini sangat tidak disarankan untuk ngomong secara heboh apalagi tertawa super duper semarak bin riuh. BIG NO! Tahan dulu yes. Bila sudah benar-benar amat sanfat kebelet, kembali pada trik nomor 1 saja.

3. Terus kalau sudah terlanjur alias keceplosan kentut gimana dong?

Ah, ini mah kecil. Biasanya juga nyeplos “ih, siapa yang kentut nih?”, laaaaaah kaaaan biasanya begitu kan.

4. Selesai

P.S. yang ada pengalaman or trik jitu seputar kentut boleh meninggalkan jejak komentar kok. Sekali lagi, demi kemaslahatan sesama pemilik kentut… 🙂

Advertisements

2 responses

  1. kentut memang pahlawan mbak, perut lega setelah keluar. tetapi yang bikin males itu kalau kentut ketika udh rakaat keempat sholat dzuhur di tempat umum. hiks. harus balik lagi ambil wudhu.. 😦

    02/02/2015 at 7:38 am

    • Iyyaaaa mbak, tapi kan daripada perut eneg begah mending dikeluarken sajo, muwihhihi. 🙂

      07/02/2015 at 5:51 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s