another place to share

Needed: Empathy and Tolerance

photo credit: pinterest

Kebanyakan orang sulit untuk berkawan baik dengan bagaimana meredam emosi saat berada pada situasi yang sangat tidak diinginkan di waktu yang tidak memungkinkan. Let’s say kadang pengin banget bilang sambil teriak: “mbok ya jangan sekarang”. “Kenapa harus sekarang di saat gue sedang terburu-buru”. “Di saat gue sedang harus mengejar narasumber yang akan flight ke LN untuk waktu selama dua minggu sedang deadline gue adalah siang ini”. “Di saat mood sedang berada pada titik terburuknya”. Dan bla bla bla bla bla blaaa. Oh God, What a day! What a chaotic situation.

Pernah gak ngalamin hal seperti itu? Pasti pernah kan. Seperti kejadian yang saya lihat pagi tadi. Saat semua orang sedang bergegas menuju tempat kerja agar tidak terlambat. Everyone in a rush dong. Apalagi di jam 08.30 jalanan sudah mulai agak sepi, penginnya ngebut aja deh. Kapan lagi bisa ngebut di pagi hari on weekdays pula, tancap gas aja lah ya. Iya nggak siy? Tiba-tiba angkot yang saya naikin berhenti mendadak dan terdengar suara “Braaaak”. Ada motor jatuh sekaligus pengendaranya juga ikutan jatuh. Woooh, kecelakaan saudara-saudara. Saya masih beruntung, bukan angkot yang saya naikin tetapi malang untuk pengendara motor di depan. Yang lebih memprihatinkan, pihak yang merasa dirugikan yang notabene nggak kenapa-napa dan nggak ada lecet apa-apa pula justru memaki-maki pengendara yang jatuh karena harus mengerem mendadak menghindari menabrak motor di depannya yaitu si pengendara yang marah-marah tanpa aturan. Parahnya lagi, kok bias ya orang sedang jatuh bukannya ditolongin tapi itu orang tetap marah-marah tanpa ujung. Saat sudah berdiri pun di dorong pula. Parahnya lagi, dia pergi begitu saja dengan umpatan yang tak seharusnya. Oh man, come on. Be wise please. And again,saya harus ngebatin kenapa siy orang Indonesia mudah tersulut emosi.

Namun di balik itu, masih ada orang-orang Indonesia yang berempati. Banyak lelaki yang menolong pengendara jatuh sekaligus ngimbangin makian pengendara yang tak berempati dengan sorakan yang hampir-hampir membuat saya mbrebes mili. Bahkan kamipun para wanita yang berada di dalam angkot ikutan berteriak setiap kali lelaki pemarah itu mengumbar makiannya terlebih saat mendorong orang yang sedang kesusahan. Ini serius lho! Mungkin teriakan kami tidaklah membantu apa-apa tapi kami berusaha berempati bahwa tindakan memaki-maki orang di saat seperti tadi bukanlah hal yang tepat dan terpuji. Bisa kan kepala didinginkan dahulu, dibuat rileks, dan diomongin baik-baik. Yang salah harus meminta maaf dan bertanggung jawab. Yang dirugikan pun seharusnya legowo ketika tanggung jawab itu ada. Selesai taka da permusuhan. Tak ada perdebatan tanpa guna. Damai kan bumi ini jadinya.

Lesson to learn:

Saya berpikir kembali bahwa meredam emosi itu memang sulit. Tapi justru disitulah karakter kita diuji. Typical orang seperti apa siy kita. Yang gampang banget mengumbar marah dan maki. Ataukah orang yang welas asih dan bijak bersikap serta berbicara.

Be wise, guys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s