another place to share

Baby S’s Flight: Rempongnya Duo Rempong

(Dokpri.) Cuaca cerah saat itu.

(Dokpri.) Beautiful sky. Cuaca cerah kala itu cukup menghibur dan mengobati kerempongan saya…

Masih edisi lebaran ya, masih edisi arus balik juga buat saya mah. Mohon maaf lahir dan batin atas kata-kata yang kurang berkenan atau bahkan tanpa sengaja kelewatan. Selamat kembali menekuri aktivitas yang semoga lebih produktif dan lebih baik. Ceritanya saya berniat bebenah blog yang sudah tak karuan bentuk dan rupanya karena sering saya tinggal dengan alasan yang sayapun tak begitu bisa memakluminya (curhaaat). Tahukah Anda bahwa saya yang ngaku-ngaku blogger ini masiiiiiih saja menimbun alasan demi untuk menunda ngeblog. Padahal oh padahal, apa yang sedang berseliweran di kepala saat itu belum tentu akan bertahan dengan baik (you know what I mean lah).

Saya ada sedikit oleh-oleh cerita tentang perjalanan arus balik kemarin. Well, perjalanan kali ini adalah kali pertamanya duo rempong (ibu dan anak) bepergian jauh antar kota antar propinsi dengan jarak 401 km. Rempong?? Tentu!

Begini cerita (singkat)nya……
Dikarenakan emaknya baby S dapat jatah libur yang amat sangat panjang sekali, maka setelah melampaui debat ini itu dengan bapaknya baby S yang juga lama sekali, akhirnya disepakati bahwa duo rempong akan tinggal lebih lama di kampung halaman. Lumayanlah ya bisa menghirup oksigen yang lebih minim polutan nyaris sebulan. Tapi balik ke Jakarta nanti ya hanya berdua saja karena babehnya baby S tidak memungkinkan untuk menjemput. Okeee, saya mah oke-oke saja dong.

Preparation……
Saya merasa sebagai orang terdeg-degan dan sebut saja repot alias rempong tak terkira soal perjalanan kami ini. Pasalnya baby S sedang berada pada fase tak bisa diam dan agak sedikit tak suka duduk berdiam lama dan dipangku. Well, artinya adalah harus ada mainan, makanan, dan kegiatan yang akan membuatnya tenang selama 1 jam 5 menit.
Mainan: pasukan dinosaurus dan kawan-kawannya. Baby S sedang gandrung dengan Brachiosaurus dkk, jadi saya pikir dia akan sangat anteng main di pesawat nanti.
Buku: Tiko dan Tidut, Baby’s Activity,
Makanan: air mineral, susu UHT, roti, chocolate roll, wafer, dan biskuit. Sudah lebih dari cukup lah ya. Nantipun juga akan ada snack dari maskapai.
Lain-lain: tisu basah dan kering, minyak kayu putih dan telon, diaper, kantong plastik.
Keseluruhan barang-barang di atas masuk ke dalam goodie bag agar mudah saya jangkau. Kecanggihan teknologipun memanjakan e-ticket yang tak lagi harus diprint. Tapi untuk jaga-jaga saya tetap menyetaknya. Sudah cukup well prepared kan yaaaa? (agak maksa)

Tibalah hari H kerempongan itu
Setelah kemarin diputuskan untuk ada bagasi karena saya merasa akan kerepotan jikalau membawa satu tas ukuran sedang selain ransel dan goodie bag ke dalam kabin, maka tas itu harus dicarikan teman dong. Saya pikir tak ada bedanya bagasi sedikit atau banyak karena saya tetap membutuhkan troli juga saat pengambilan barang nanti. Akhirnya fix, asumsinya adalah 2 bagasi (1 tas sedang dan kardus) dan 2 kabin(ransel plus goodie bag sambil gendong baby S). Sekitar pukul 16.15 kerempongan dimulai. Baby S tidur karena siang hari belum tidur dan terbangun saat security  check menuju waiting room. Dan tahukah apa yang terjadi bila orang yang ngantuk berat dan terbangun di 20 menit pertama tidurnya?? Yep, rewelpun dimulai hingga take off bahkan saat pesawat sudah terbang setengah perjalanan. Dikasih mainan ga mau, makan minumpun ditolaknya, buku dicuekin, video juga diacuhkan. Malah baby S memaksa minta turun (naaak, kita tidak sedang di lapangan naaaak). Belum lagi penumpang lain spontan menengok bagaimana saya kekeuh merayu baby S agar diam yang justru makin kencang teriakannya. Wah, keringat sebesar biji jagung berguguran dan rasanya mulai campur aduk. Pramugari menghampiri mencoba merayu kali saja baby S akan diam. Hasilnya tetap nihil. Ohiya, ada adegan susu tumpah saat hendak menuju pesawat yang berdampak pada basahnya celana saya dan juga goodie bag (oh, saya lupa sebelum tertidur Syafiq minum susu dan tak menghabiskannya).

(Dokpri.) Boarding pass sekumel ini, maka terbayang sudah kerempongan kami

(Dokpri.) Boarding pass sekumel ini, maka terbayang kan betapa aduhainya kerempongan kami (terutama emaknya)

Dan pahlawan yang berjasa membuat Syafiq sedikit anteng dan perlahan benar-benar anteng adalah penumpang sebelah yang mencoba mengajaknya ngobrol via gambar-gambar seadanya di majalah pesawat. Dan itulah majalah satu-satunya yang disuka baby S karena disodorkan majalah yang sama oleh emaknya pun tetap ditolaknya. Oh nak, lakok ya ada-ada saja maunya dirimu saat bad mood mu datang. Kurang lebih 15 menit saja anak lanang saya anteng dan kemudian kembali merengek minta turun. Ya, ya, ya, kesabaran emak kembali diuji. Termasuk harus nyanyi-nyanyi girang agar si S anteng diam. dan lagu Airplane cukup ampuh menenangkannya selama 5 menit saja. Bagaimanapun, I thank you sooo much, Barney. karena setelah dipancing dengan satu lagu, akhirnya my S mau dan anteng menonton video.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s