another place to share

Yang Adanya Hanya Setahun Sekali

Lebaraaaaan. Hari kemenangan. Mohon maaf lahir dan batin ya teman-temaaaannn *salim* *sungkem* *cipika cipiki*
Idul Fitri yang setiap tahun kami (sebagai muslim) rayakan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah momentum yang membahagiakan. Banyak yang menyebut sebagai hari kemenangan, kalau versi saya hari berkumpulnya keluarga sembari menerka, mengira, dan sekuat tenaga berupaya mengetes kemampuan daya ingat. Bagaimana tidak, dalam waktu yang bisa dibilang singkat saya harus mengingat-ingat nama saudara-saudara secara benar yang jumlahnya puluhan. Mungkin sampai ratusan kali ya jika ditambahkan dengan para krucils yang saya juga sudah tak tahu lagi persisnya hubungan kami sebagai ponakan atau malah sudah mbah dan cucu. Ada yang sudah pernah bertemu, ada baru bertemu saat itu. Terlebih, kali ini adalah dari keluarga suami saya, waduh, tambah ga kenal lagi kan, ketemunya juga kapan. Beneran boo, peer banget. Jadi, maklum aza ya kalau ketuker tuker manggilnya, ehhehe. Kamu? Gitu juga kan! (Hayooo ngakuuuuu!)
Di Indonesia, sejak sebelum bulan puasa hingga setelah lebaran (dalam kalender Islam dimulai sejak Sya’ban, Ramadhan, hingga Syawal) ada tradisi yang sudah mengakar dan ngIndonesia banget. Setiap daerah pasti memiliki tradisi yang unik dan berbeda-beda. Intinya untuk menyambut Ramadhan, merayakan suka cita Ramadhan dan juga hari kemenangan yaitu Idul Fitri. Yang saya tahu, karena kebetulan saya lahir dan sekolah di Jawa, tepatnya kalau di peta siy di ujung selatan propinsi Jawa Tengah, maka tradisi yang saya banyak tahu ya dari daerah saya. Beberapa di antaranya adalah:
Megengan/ Ruwahan saat Sya’ban/Ruwah (kalender Jawa)
Sebulan sebelum Ramadhan yaitu bulan Sya’ban, warga di kampung kami bergiliran setiap rumah memasak dengan lauk komplit ala kenduri jawa (serundeng, ayam ingkung, oseng lombok ijo, bacem/goreng tahu tempe, bihun/ mie kecap, dll) disertai apem, jadah, pisang, dan teman-temannya. Kemudian para pria dari setiap rumah akan berkumpul di rumah yang punya hajat untuk kemudian pulang dengan membawa berkat yang terdiri dari makanan yang saya sebut di atas. Seringnya, ibu saya ga masak hampir selama sebulan lho. Karena hampir setiap hari ada yang megengan. Ya, silakan dibayangkan saja satu RT ngadain megengan semuanya. Tradisi ini disebut megengan, semacam untuk menyambut bulan Ramadhan yang sebentar lagi tiba. Selain itu, tradisi ini ampuh banget untuk mempererat tali silaturahim dengan para tetangga. Yoi banget niy untuk lebih akrab dengan tetangga sekitar.
Jaburan saat Ramadhan
Malam hari selama bulan Ramadhan, umat Islam melaksanakan shalat sunah Tarawih. Langgar dan masjid akan full dan terlihat on terus 24 jam non stop (kalau di kampung saya lho ya). Kebanyakan para remaja masjid tidur di masjid hingga waktu sahur, kemudian membangunkan sahur dong. Selain menggunakan mic, kegiatan membangunkan sahur juga diwarnai dengan menabuh kentongan plus bedug, tak jarang panci dan teko pun jadi korban sebagai gendang dadakan. Seruuuuu, ramaiiii, beneran kaya merayakan ramadhaaan dan jujur, saya kangen banget dengar para remaja dan anak-anak keliling kampung membangunkan sahur. Alright, back to jaburan ya. Jadi, jaburan itu bagian dari yang ditunggu-tunggu setelah shalat tarawih. Biasanya ada ibu-ibu yang sengaja menyiapkan makanan untuk dibagi-bagi kepada jama’ah. Meski kenyang setelah berbuka, tapi jaburan ini selalu habis. Meski makanannya sederhana, tapi alhamdulilah, rasanya enak dan pasti habis dong. Mungkin ini yang disebut berkah ya. Jaburan ini tidak setiap malam ada, jadi suka surprised aja setiap kali ada yang tarawih dan bawa tentengan, artinya jaburaaaaan. Ah, jadi kangen jaburan deh saya. Ada yang mirip atau mungkin sama dengan tradisi jaburan di tempat saya ga?
Tarling dan memasak di malam takbiran
Ini niy yang ga kalah seru dan heboh. Malam lebaran aka hari terakhir berpuasa ba’da sholat isya’, takbir keliling sudah menjadi tradisi. Biasanya satu desa berkeliling sambil menyerukan gema takbir. Nah, karena kebanyakan bapak-bapak dan remaja lelaki plus anak-anak yang ikut tarling, dan remaja putri takbiran di masjid masing-masing, maka giliran para ibu yang memasak di dapur. Yang ga boleh dilupakan adalah memasak sepanci besar teh untuk seluruh jama’ah. Ohiya, teh yang dimasak selalu nikmat dan bikin kangen, sueger dan wangi banget. Pokoknya ngangenin. Swear, kangen banget deh saya *abaikan*
Sedan ijo setelah sholat ‘Ied
Lagi dan lagi tahun ini saya melewatkan banyak tradisi yang hanya setahun sekali diadakan di kampung halaman saya, Wonogiri. Dan tradisi yang paling saya kangenin adalah sedan ijoooo. Bukan mobil yang warnanya hijau ya, bukaaaan. Sedan ijo itu sebutan untuk nasi dengan lauk pauk ala kadarnya atau suka-suka selera yang memasak (baca: sesuai dengan menu hari pertama saat lebaran). Perlu diketahui, di kampung saya tidak ada ketupat beserta rendang opor dan sambel goreng ati di hari pertama lebaran ya. Yang ada justru ayam ingkung, kalau mau nyari ketupat nunggu hari ketujuh aza, ehhehe, tapi sekarang sudah tidak semua rumah membuat ketupat lagi, sudah pada balik kan keluarganya, ehhehe. Disebut sedan ijo karena dibungkus daun pisang dan bentuknya mirip seperti mobil sedan, ahhahaa. Meski lauknya sederhana, rasanya endeus. Ala masakan desa gitu. Plus wangi daun pisang dan dimakan bersama-sama, rasanya jadi luar biasa. Ini niy yang selalu ditunggu-tunggu saat lebaran. Sedan iji dooong.
Open house ala dusun Mojo
Ngomongin open house, pasti yang kebayang serba wah dan megah dong. Nah, di kampung saya yang bikin megah dan mewah itu kekeluargaannya. Setiap rumah, tak peduli kaya ataupun miskin, pasti mengadakan open house di hari kedua lebaran, saudara-saudaraaaa. Setiap dari kami (kecuali ibu bapak karena nunggu tamu) keliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk bermaaf-maafan dan minta salam tempel. Maka jangan heran bila menemukan rengginang dalam toples kh*ong guan pun beneran kejadian. Eits, jangan salah. Rengginang buatan orang di kampung saya enak lho. Ketan merahnya berasa dan jadi oleh-oleh andalan juga dong. Biasanya dari jam 7 pagi anak-anak kecil sudah mulai hilir mudik berdatangan. Jadi harus kudu ready dari pagi-pagi buta. Sampai sore, kadang malampun tamu masih ada yang datang. Dijamin, malamnya tidur bakalan pules les les. Momen lebaran memang melelahkan tapi impas dengan paseduluran yang semoga berkah, aamiiin.
Itu tadi beberapa momen ngangenin selama 3 bulan berturut-turut (Sya’ban, Ramadhan, Syawal) di kampung saya yang alhamdulillah masih terjaga hingga sekarang. Bagaimana dengan tempatmu?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s