Pertemuan Dua Gelisah

Aku mememukanmu di persimpangan gelisah.
Saat hujan hinggap di pelupuk kesedihan pada suatu petang.
Pakaianmu begitu lusuh layaknya pikiranku yang kumal direnggut pilu. Kasihan.

Kemudian aku jatuh cinta pada matamu yang redup.
Tentu saja, sinarnya direnggut oleh air mata sedih. Luka. Sengsara.
Entah kenapa aku terbius dalam mata tanpa harapan itu.
Apa karena kita satu suasana? Senasib dalam duka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s